Tuesday 16 April 2019

KISAH NABI ILYAS YANG TIDAK MENINGGAL DUNIA

Imam Ad-Daraqathni meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra,
“Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun ketika musim haji dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahalul) satu sama yang lain.” (Riwayat Ibnu ‘Abbas ra)
Dalam Az-Zuhd riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabarani dikatakan,
“Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun ketika musim haji dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahalul) satu sama yang lain. Dan mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis.” (Menurut Ibnu Hajar, riwayat ini sanadnya hasan)
Di dalam Musnad Abu Usamah dikatakan,
“Nabi Khidhir di lautan dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu setiap malam di tepi tembok yang dibuat oleh Zulkarnain.” (Syawahid Al-Haq pada halaman 200, tentang 4 hadis yang dibawakan oleh Ibnul Jauzi)
Nabi Ilyas as dan Nabi Ilyasa as bersama-sama mengembangkan misi dakwahnya kepada Bani Israil. Lebih kurang selama lapan tahun, Nabi Ilyas as hidup bersama Nabi Ilyasa as untuk menjalankan misi dakwahnya.
Pada suatu hari, ketika Nabi Ilyas as sedang berehat, datanglah Malaikat Maut kepadanya.
“Hai Ilyas, penuhilah panggilan Allah, kini saatnya nyawa mu akan ku jemput! Maka bersiap-siaplah, hai Ilyas!” kata Malaikat Maut.
Mendengar berita itu, Nabi Ilyas as menjadi sedih dan menangis.
“Mengapa engkau bersedih, Ilyas?” tanya Malaikat Maut.
“Tidak tahulah,” jawab Nabi Ilyas as.
“Apakah engkau bersedih kerana akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi kematian?” tanya Malaikat Maut.
“Tidak. Tidak ada satu pun yang aku sesali kecuali aku rasa menyesal kerana tidak dapat lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup dapat terus berzikir memuji Allah,” jawab Nabi Ilyas as.
Lantas Allah swt menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut agar menunda mencabut nyawa baginda dan beri kesempatan kepada Nabi Ilyas as berzikir sesuai dengan permintaannya.
Nabi Ilyas as ingin terus hidup semata-mata ingin berzikir kepada Allah swt. Maka berzikirlah Nabi Ilyas as sepanjang hidupnya.
Allah swt berfirman,
“Biarlah Nabi Ilyas hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepadaKu sampai akhir nanti (hari kiamat).”
Mendengar firman Allah tersebut, maka Malaikat Maut tidak jadi mencabut nyawa Nabi Ilyas as. Maka selama-lamanya Nabi Ilyas as tidak mati kecuali di Hari Kiamat.
Maka dibuatlah Nabi Ilyas as tetap hidup abadi hingga hari kiamat, nyawanya tidak dicabut, namun dirinya dijadikan ghaib oleh Allah SWT sebagaimana Nabi Khidir yang tetap hidup namun dirinya dijadikan ghaib oleh Allah SWT agar tidak dapat dilihat, didengar dan diketahui kewujudannya oleh orang yang masih hidup di dunia.
Allah swt menjadikan Nabi Khidir as dan Nabi Ilyas as tetap hidup dan tidak pernah mati hingga hari kiamat kelak.
Allah swt menempatkan Nabi Khidir as di tengah-tengah lautan, sedangkan Nabi Ilyas as ditempatkanNya di tengah-tengah taman yang luas dan indah yang ada di tengah-tengah muka bumi ini, sambil terus-menerus dalam keadaan berzikir kepada Allah swt dari dulu hingga hari kiamat.
Wallahua’lam...
Kredit: Sajadah Muslim
-Debu-
Copy and paste: FB Kebangkitan Bani Jawi (Nusantara)
16.4.2019: 9.30 pm

No comments: