Monday, 25 March 2024

TANDA-TANDA LALAI

SUMBER: DURIAN CHEESE

Antaranya:
1. Kurang membaca Al Quran.
2. Kurang berzikir.
3. Lalai dalam solat, kurang ingat pada Allah; tidak fokus, sering terlupa bilangan rakaat, melewatkan solat, kurang solat jemaah.
4. Banyak membuang masa; untuk hiburan.
5. Kurang atau malas berdoa. Kalau berdoa, tidak ada penghayatan, pakat hafal saja.
6. Memanjang sibuk dengan urusan dunia; mudah stress.
7. Cara hidupnya menyerupai musuh Islam.
8. Tak berhati-hati dengan perkara yang syubhah dan haram.
Ada juga Ustaz sebut; jarak antara hati kita dengan ketenangan, ibarat 'jarak' kita dengan Al Quran.
Pesannya, beli Al Quran guna duit sendiri. Pilih ikut citarasa kita. Cakap dengan Al Quran tu, kita nak bersahabat dengan dia.

AKIBAT LALAI
1. Kurang semangat nak beribadah, tidak suka baca quran.
2. 'Bunuh' kebaikan yang kita buat; kita tak nampak berbuat baik itu suatu yang utama.
3. Hilang fokus dalam hidup.
4. Mudah lesu dan buntu,sentiasa rasa esok masih ada.

SEBAB LALAI
1. Mengulang-ulang dosa kecil sampai jadi kelaziman.
2. Berkawan dengan orang-orang yang lalai.
3. Berada dalam persekitaran 'rosak' (Contoh: pergaulan bebas dengan bukan muhrim, dedah aurat dan buat maksiat), berada di situ bukan untuk tujuan berdakwah.
4. Tidak berzikir.
5. Terjerat dalam perancangan-perancangan licik musuh Islam (Contoh: berlebihan dalam mendengar lagu, tonton filem dan rancangan sukan )

CARA ATASI LALAI
1. Cari sahabat yang baik.
2. Hadiri majlis ilmu.
3. Bangun malam dan solat.
4. Banyakkan zikir.
5. Rajin baca quran.
6. Bersangka baik dengan org lain.
Share lah jika ia memberi bermanfaat.

Copy and paste:
25/3/2024 > 14 Ramadan 1445H: 1.52 p.m

Thursday, 21 March 2024

Kurma Makanan Sunnah Terbaik Untuk Berbuka Puasa

SUMBER: KEMBARA SAHABAT HARAMAIN
Posted by : Mohd Faridzul Yop
21.3.2024 > 10 Ramadan 1445H

Pada Bulan Ramadhan, Kurma biasanya banyak diburu masyarakat untuk disajikan pada saat berbuka Puasa atau sahur. Kurma disebut-sebut sebagai makanan terbaik untuk yang berpuasa. Inilah istimewanya kurma.
Dunia medis telah membuktikannya bahwa kurma memiliki banyak khasiat yang bermanfaat bagi tubuh. Khususnya di bulan Ramadhan.
Kurma mengandung unsur-unsur penting berupa vitamin, mineral dan gula alami yang mudah diserap, dan membantu untuk mengurangi rasa lapar dan memberi rasa kenyang dengan cepat, karena itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ
“Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa maka makanlah buah kurma karena ia mengandung keberkahan”. (HR. Abu Daud).
SubhanAllah!
Ternyata Inilah yang banyak direkomendasikan oleh para ilmuwan Nutrisi hingga Hari ini.
Kurma berfungsi untuk pengobatan, Berdasarkan pengalaman dan penelitian, menegaskan bahwa mengkonsumsi beberapa biji buah kurma rutin setiap hari dapat membantu keseimbangan tubuh dan otak dalam mengatur sekresi hormon yang masuk ke otak manusia, yang akan mengirimkan sinyal kepada pikiran dan merasa selalu kenyang sehingga mengurangi jumlah makanan yang biasa dikonsumsi.
Dari sini kita mengingat sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
لاَ يَجُوْعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ
“Tidak akan kelaparan rumah tangga seseorang yang memiliki kurma di dalamnya”. ( H.R Muslim).
Mengkonsumsi kurma setiap hari dan teratur akan mempengaruhi kondisi mental yang akan membuatnya lebih stabil, dan Subhanallah (Maha suci Allah) yang telah memberikan kepada kita makanan ini dan telah disebutkan dalam firmanNya:
وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (٣٤)لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلا يَشْكُرُونَ (٣٥)
“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur? (Q.S Yasin:34-35)
Berpuasa yang efektif harus ditopang pada Air dan Gula Alami, dan gula yang terdapat pada kurma merupakan salah satu gula terbaik untuk tubuh Manusia. Dalam penelitian menunjukkan bahwa manusia yang mengkonsumsi air dan kurma untuk periode Tiga puluh hari, maka tubuhnya akan terhindar dari berbagai racun yang terakumulasi dalam tubuh dan vitalitasnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah menegaskan kaidah ini dan berbicara tentangnya:
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ
“Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa maka makanlah buah kurma karena ia mengandung keberkahan dan jika tidak mendapatkan kurma maka dengan air putih karena ia adalah simbol kebersihan”. (H.R Abu Daud).
Selamat Menyambut Datangnya Bulan Suci Ramadhan 1445 H buat @followers Mohd Faridzul Yop Kembara Sahabat Haramain

Copy and paste:
21/3/2024 > 10 Ramadan 1445H: 1.09 p.m

Tuesday, 19 March 2024

Minda PresidenPAS > RAMADAN BULAN TETAMU ALLAH

Oleh: Tuan Guru Hj Abdul Hadi Awang

Selamat bersama Ramadan menjadi tetamu Allah SWT, dikurniakan kelebihan dengan hidangan makanan jasad yang berkat dan sihat, termasuk hidangan makanan roh dan akal yang kuat. Pada masa yang sama, dikurniakan kelebihan tarbiah untuk membentuk syakhsiah berintegriti yang sejati bagi menghadapi cabaran hidup mencakupi aspek fitrah manusia yang berjasad, bersama akal dan roh, bersendirian, berkeluarga dan bermasyarakat yang sama sekali berbeza dengan makhluk yang lain.
Kesempurnaan Islam itu lengkap dan mencakupi segala aspek kehidupan, tidak seperti agama lain. Jauh sekali sekiranya hendak dibandingkan dengan ideologi dan teori ciptaan manusia.
Orang-orang yang beriman diwajibkan beribadat puasa yang menjadi salah satu rukun Islam, sehinggakan pahalanya tidak terkira dan ia hanyalah di sisi Allah. Oleh itu, meninggalkan puasa tanpa keuzuran syar‘i walau hanya satu hari tidak boleh digantikan pahalanya dengan puasa sepanjang hayat.
Manakala sahur dan iftarnya pula makanan yang berkat berpahala, bukan seperti makan seperti biasa. Melatih diri dengan ikhlas bersyukur dan bersabar, mencipta simpati kepada yang susah berlapar dan dahaga dalam kehidupan bermasyarakat, di samping mencipta syukur dan sabar dalam diri sendiri ketika kenyang dengan rezeki Allah.
Berlatih jihad melawan nafsu dalam diri sendiri terhadap perkara yang halal, ia dilarang pada waktu siang hari sahaja, lebih-lebih lagi melawan perkara yang haram sepanjang masa. Selepasnya menghadapi kehidupan di lapangan yang mencabar bersama sifat taqwa yang menentukan martabat dan darjat manusia di sisi Allah, menyahut seruan Allah SWT dalam firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” 
[Surah al-Baqarah: 183]

Sifat taqwa itu menentukan martabat dan darjat manusia di sisi Allah, bukannya ditentukan melalui pangkat, harta, keturunan, bangsa dan warna kulit. 

Firman Allah SWT:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada seorang lelaki (Adam) dan seorang perempuan (Hawwa’) serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 
[Surah al-Hujurat: 13]

Bertaqwa dengan mematuhi perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya secara ikhlas hati bukan untuk menunjuk-nunjuk. Itulah sifat yang lahir dalam diri seseorang, apabila menunaikan ibadat puasa yang sebenarnya.
Dalam bulan Ramadan, ibadat wajib yang biasa dilakukan itu digandakan pahalanya, ditambah pula dengan ibadat sunat yang tidak diwajibkan. Melakukannya dapat pahala, meninggalkannya pula tidak berdosa.
Ibadat itu merangkumi ibadat dari sudut jasad, harta dan roh, melalui pelaksanaan solat, zakat, sedekah, dalam keadaan hatinya ikhlas, syukur, sabar dan lain-lain. Sementara itu, menjalin hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia, bermula dengan diri sendiri, keluarga, jiran tetangga dan masyarakat yang besar dan luas dalam kehidupan manusia.

Manusia ditetapkan berada di alam dunia supaya beribadat, berkhilafah (mentadbir) dan menunaikan amanah melaksanakan hukum Allah yang adil terhadap semua. Semua perkara ini dinyatakan dalam ayat-ayat berikut, firman Allah SWT:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepada-Ku. (56) Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun daripada mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. (57) Sesungguhnya, Allah itu Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh. (58)” 
[Surah al-Zariyat: 56-58]

Firman Allah SWT:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” 
[Surah al-Baqarah: 30]

Firman Allah SWT:
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ٥٨
“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” 
[Surah al-Nisa’: 58]

Firman Allah SWT:
إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا ٧٢
“Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-ganang, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan amanah itu dipikul oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” 
[Surah al-Ahzab: 72]

Menepati bulan Ramadan, Allah memilih berlakunya peristiwa Nuzul al-Quran sebagai kitab hidayah (diturunkan al-Quran). Hal ini dijelaskan oleh firman-Nya:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dengan yang batil). Oleh sebab itu, sesiapa antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan sesiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” 
[Surah al-Baqarah: 185]

Bulan Ramadan dipilih oleh Allah untuk diturunkan al-Quran ke langit dunia sekali gus menjadi satu kemuliaan kepada bulan yang dimuliakan ini. Setelah itu, ia diturunkan secara beransur-ansur supaya menjadi lebih teratur pelaksanaannya, seterusnya lebih berkesan ilmu dan tarbiahnya. Maka, diturunkan wahyu yang pertama.

Berbeza dengan kitab sebelumnya yang diwahyukan seluruhnya pada satu masa kepada umat yang kecil dan zaman yang tertentu. Adapun al-Quran pula, ia diturunkan untuk seluruh manusia sepanjang zaman. 

Firman Allah SWT:
وَقُرۡءَانٗا فَرَقۡنَٰهُ لِتَقۡرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكۡثٖ وَنَزَّلۡنَٰهُ تَنزِيلٗا ١٠٦
“Dan al-Quran itu telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bahagian demi bahagian.” 
[Surah al-Isra’: 106]

Hanya mereka yang bertaqwa sahaja yang menjadikan al-Quran sebagai petunjuknya. 

Firman Allah SWT:

الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ ٤ أُوْلَـٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥
“Alif lam mim. (1) Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (2) (Iaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan solat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (3) Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (4) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk daripada Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang berjaya. (5)”
Penerimaan tanpa ragu terhadap al-Quran hanya oleh mereka yang bertaqwa kepada Allah yang tertanam dalam hati mereka dengan keimanan yang ikhlas tanpa kufur dan munafiq kepada perkara yang nyata, ghaib, cerita terdahulu dan akan datang khususnya tentang Hari Kiamat.
Al-Quran tidak mudah diterima oleh manusia, hanya mereka yang layak sahaja mendapat hidayah daripada Allah. Melaksanakannya dengan menunaikan kewajipan jihad menegakkan Islam yang sempurna daripada al-Quran dan Hikmah Rasulullah SAW yang menyampaikan dan melaksanakannya. 

Firman Allah SWT:
... ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ...٣
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‘mat-Ku, dan telah Aku redai Islam itu jadi agama bagimu… ” 
[Surah al-Ma’idah: 3]

Selain itu, Allah SWT juga memilih pada bulan Ramadan yang mulia ini berlakunya peristiwa Perang Badar al-Kubra. Perkara ini dinyatakan oleh firman-Nya:

وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٖ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٞۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٢٣
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Oleh sebab itu, bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” 
[Surah Ali ‘Imran: 123]

Semua perkara ini menunjukkan al-Quran bukan sahaja wajib dibaca dengan baik bagi mendapatkan pahalanya, perkara yang lebih besar ialah beramal dengan petunjuknya dengan penuh ketaqwaan. Allah memberi amaran kepada kaum Yahudi Ahli Kitab yang hanya membaca kitab Taurat, tetapi tidak beramal dengan petunjuknya. 

Firman Allah SWT:
﴿وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَـٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيم١٠٥
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat seksaan yang berat.” 
[Surah Ali ‘Imran: 105]

Firman Allah SWT:

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ٢ وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٣ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٤ مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٥
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka al-Kitab dan Hikmah (al-Sunnah). Dan sesungguhnya, mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. (2) Dan (juga) kepada kaum yang lain daripada mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3) Demikianlah kurniaan Allah, diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai kurniaan yang besar. (4) Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (5)” 
[Surah al-Jumu‘ah: 2-5]

Rasulullah SAW memberitahu akan lahir daripada kalangan umatnya mereka yang sangat baik bacaan al-Quran, tetapi tidak beriman dan tidak beramal dengan hidayahnya. 

Ia disebutkan melalui sabdanya:

سَيَخْرُجُ ‌قَوْمٌ ‌فِي ‌آخِرِ ‌الزَّمَانِ، ‌أَحْدَاثُ ‌الأَسْنَانِ، ‌سُفَهَاءُ ‌الأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ.
“Akan muncul satu kaum pada akhir zaman yang pandai bercakap, tetapi tidak berilmu, bodoh impiannya, bercakap dengan sebaik-baik ucapan manusia, mereka membaca al-Quran dengan baik namun sekadar kerongkongannya sahaja mereka terkeluar daripada agama laksana anak panah menuju sasarannya. Maka, di mana sahaja kamu menemuinya, maka hadapilah mereka bagi menentang mereka. Sesungguhnya, penentangan terhadap mereka nescaya mendapat pahala yang besar pada Hari Kiamat kelak.” 
[Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Diyat, No. 6930, daripada ‘Ali bin Abi Talib KW]

Demikianlah cabaran besar yang dihadapi oleh umat Islam dari dalam diri umat yang tenggelam dalam kejahilan, kesan daripada serangan pemikiran pada zaman penjajah, di samping menghadapi musuh luar yang mudah dikenali.
Maka, digalakkan untuk bertadarus al-Quran pada bulan Ramadan dengan membacanya dan menghadiri majlis ilmu bagi memahaminya.
Generasi awal dalam kalangan para sahabat ramai yang mati di perantauan yang jauh semata-mata kerana ingin menyebarkan Islam dan menegakkannya daripada al-Quran kepada seluruh manusia.
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS
Bertarikh: 8 Ramadan 1445 / 19 Mac 2024
[Bil: 15 / 2024]


Copy and paste:
19 March 2024 > 8 Ramadan 1445H: 4.27 pm




Wednesday, 13 March 2024

FEDERATED MALAY STATE VOLUNTEER RESERVE FORCE (FMSVF)


SUMBER: MALAYSIA MILITARY POWER

KETIKA LEFTENAN ADNAN, bersama Kompeni B dan Kompeni C sedang bertempur dengan kemaraan Tentera Jepun di Pasir Panjang dibawah naungan Rejimen Askar Melayu Diraja, ada 5 orang anak Cina yang berasal dari Taiping juga turut bersama-sama dalam mengekang kemaraan Jepun ketika pertempuran di Singapura.
L/Sgt Khoo Heng Peng
Cpl Ong Kim Sai
Cpl Chan Kam Weng
Pte Tang Bee Choon
Pte Lim Poh Aun
Kelima-lima mereka adalah anak tempatan Taiping, menyertai pasukan simpanan Taiping Federated Malay States Volunteer Reserve Force (FMSVF) sehingga titisan darah terakhir di Singapura.
Salah seorang dari mereka, L/Sgt Khoo Heng Peng tewas akibat terkena serpihan peluru atau bom sewaktu bertugas di Changi.
Manakala empat yang lain, tewas di pos mesingan mereka di Geylang Serai pada 15 Februari 1942, hari dimana pada hari yang sama seluruh Malaya dan Singapura jatuh ke tangan Jepun dengan Jeneral Percival menyerah kalah tanpa syarat kepada Jeneral Yamashita.
Kesemua mereka adalah bekas pelajar sekolah King Edward VII di Taiping. Mereka secara sukarela menyertai FMSVF.
-dipetik dari "Nation Before Self" oleh mendiang Tan Sri Yuen Yuet Leng.
--------------------------------------------------------------------------------------
FMSVF salah satu cabang dari Malayan Volunteer Forces dan merupakan pasukan sukarelawan tentera yang di tubuhkan oleh pihak kolonial British untuk tujuan pertahanan jajahan takluk Negeri-Negeri Selat di bawah naungan British, yang kemudian berkembang ke Negeri-negeri Melayu Bersekutu dan Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu.
Asalnya keahlian hanyalah khusus untuk bangsa Eropah yang menetap atau lahir di Malaya dan Singapura tetapi keahlian mulai dibuka kepada kalangan orang Melayu, Cina, India, Punjabi dan Orang Asli sewaktu bibit perang Dunia Pertama mulai tercetus.
Kalangan anggota MVF adalah orang awam, ada yang terdiri dari pegawai kerajaan dan pekerja lombong serta estet, guru dan kalangan peniaga malah doktor juga.
Susun atur MVF adalah seperti berikut :
1.The Crown Colony of the Straits Settlements (S.S.)
The Straits Settlements were administered by a British Governor ((Sir Shenton Thomas) who was also High Commissioner for the eleven Malay States. The Straits Settlements consisted of Singapore, Penang and the Province Wellesley, and Malacca (and Labuan and Christmas Island). Volunteers were organised into 4 Battalions:-
Singapore - 1st and 2nd Battalion S.S.V.F [1250 men]
Penang & Province Wellesley - 3rd Battalion S.S.V.F. [916 men]
Malacca - 4th Battalion S.S.V.F.[675 men]
2.The Federated Malay States (F.M.S.)
These States were ruled by Sultans, but each had a British Resident to whom they were accountable. The Federated Malay States consisted of Perak, Selangor, Negri Sembilan and Pahang. Volunteers from these States were also organised into 4 Battalions:
Perak - 1st Battalion F.M.S.V.F.
Selangor - 2nd Battalion F.M.S.V.F.
Negri Sembilan - 3rd Battalion F.M.S.V.F.
Pahang - 4th Battalion F.M.S.V.F.
There was also an F.M.S.V.F. Signals Battalion, F.M.S.V.F.Light (Artillery) Battery, F.M.S.V.F. Reserve Motor Transport Company and F.M.S.V.F. Field Ambulance units.
F.M.S.V.F. = Federated Malay States Volunteer Force. Total number of men: 5,200.
Johore - J.V.E. (Johore Volunteer Engineers) - 258 men.
Kedah - K.V.F. (Kedah Volunteer Force) - 571 men.
Kelantan - K.V.F. (Kelantan Volunteer Force) - 136 men.
Trengganu & Perlis - no regular Defence Force or Corps.
As well as these Volunteer groupings, there were also Local Defence Corps formed in September 1940, similar to the Home Guard, throughout Malaya. There was also MAS, the Medical Auxilliary Service, and we would include as 'Volunteers' the full time, professional nurses of the Colonial Nursing Service.
Some Malayan Volunteers joined:
The Malayan Royal Navy Volunteer Reserve ( M.R.N.V.R.) - 1083 men.
The Malayan Volunteer Air Force (M.V.A.F.) - 350 men.
The Armoured Car Squadrons under S.S. & F.M.S. commands. In the final days the F.M.S.V.F Armoured Car units were amalgamated and given regimental status.
The Singapore Royal Artillery and Singapore Royal Engineers.
-------------------------------------------------------------------------------------------
kalangan anggota MVF ketika penaklukan Jepun keatas Malaya dan Singapura ditugaskan untuk mempertahankan pangkalan udara, persimpangan jalan dan jambatan-jambatan yang ada serta kritikal ketika kemaraan Jepun.
-ikansadinmknorang-

Copy and paste:
13 March 2024 - 2 Ramadan 1445H: 4.19 am

Tuesday, 12 March 2024

THE LOST KINGDOM OF SARAWAK – The Untold History

SUMBER : BORNEO ORACLE

The Lost Kingdom Of Sarawak atau Kerajaan Kuno Sarawak Yang Hilang. Inilah artikel yang akan menjadi ruang informasi sejarah untuk kita sebagai Bangsa Sarawak mengetahuinya. Untuk pengetahuan, kami di Borneo Oracle pernah membuat posting untuk artikel ini secara bersiri sekitar tahun 2012 dan bagi menunaikan permintaan pembaca yang rata-ratanya tidak mengetahuinya maka kali ini kami akan rangkum segalanya di dalam satu posting.
Kerajaan Lembah Bujang di Kedah, Kerajaan Melayu Melaka, Kerajaan Langkasuka dan banyak lagi sudah tentu nama-nama kerajaan kuno ini diketahui asal-usulnya namun untuk bab Kerajaan Kuno Sarawak sudah tentu ramai yang terpinga-pinga. Pernah adakah kerajaan ini wujud di bumi Sarawak? Jawapannya YA cuma sayangnya ianya tidak pernah diwar-warkan kepada umum dan yang lebih mendukacitakan apa yang kita ketahui sekarang seperti Sarawak hanya bermula ketika zaman pemerintahan Keluarga Brooke yang memerintah 100 tahun di bumi Sarawak yang dikenali sebagai Sarawak Kingdom. Namun hakikatnya ada 5 Kerajaan Kuno Sarawak yang pernah menjadi satu peradaban dan ketamadunan Bangsa Sarawak suatu waktu dahulu. Kerajaan-kerajaan kuno ini adalah Kerajaan Negeri Santubong, Kerajaan Negeri Samarahan-Sadong, Kerajaan Negeri Kalaka, Kerajaan Negeri Saribas dan Kerajaan Negeri Malano
i. KERAJAAN NEGERI SANTUBONG
Kerajaan Negeri Santubong sebenarnya wujud pada kurun ke 10 hinggalah kurun ke 13. Di ketika itu ianya dibawah kekuasaan kerajaan Srivijaya dan setelah kemerosotannya ianya jatuh dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Lokasi kerajaan kuno ini adalah di muara Sungai Sarawak yang mana lokasi strategic ini yang menghadap Laut China Selatan telah menjadikan ianya sebuah bandar pelabuhan entreport terpenting di nusantara pada waktu itu. Penghijrahan masyarakat Melayu dari Sumatera ke kawasan Santubong telah membenarkan seorang putera raja yang telah diusir oleh nendanya iaitu Raden Merpati Dipati Jipang mengasaskan kerajaan kuno ini. Diriwayatkan bahawa Raden Merpati Dipati Jipang telah terdampar di sebuah tanjung di persisiran muara Sungai Sarawak kerana isterinya hendak bersalin. Dengan pertolongan daripada daripada Datuk Kuli atau Datuk Kuali, rombongan Raden Merpati Dipati Jipang telah mendapat perlindungan di kawasan yang dikenali sebagai Pasir Kuning. Kerana baiknya tingkah laku Raden Merpati Dipati Jipang maka kehadirannya amat disenangi oleh penduduk tempatan dan akhirnya beliau diangkat menjadi ketua di Pasir Kuning iaitu nama lama kepada Santubong suatu waktu dahulu. Dengan berkembangnya pengaruh Datu Merpati ini maka berkembanglah juga Kerajaan Santubong menjadi antara pelabuhan terpenting dan gah namanya sehingga saudagar-saudagar dari Negara Tembok China juga singgah ke Santubong untuk berniaga.
Jika dilihat kepada konteks peradaban, sememangnya Santubong merupakan sebuah kerajaan lama suatu waktu dahulu. Rajah James Brooke selepas sahaja bergelar Rajah Sarawak telah membuat eksplorasi artifak di sini. Tanda-tanda tentang peri pentingnya kawasan Santubong sebenar dicetuskan oleh penemuan Nandi dan Yoni oleh James Brooke tidak lama setelah menjadi “raja” Sarawak, sebelum berlakunya pemberontakan pelombong Cina pada tahun 1857. Selain daripada jumpaan batu besar ini James Brooke juga mengumpulkan artifak-artifak emas. Penemuan artifak yang diperbuat dari emas ini menunjukkan bahawa kawasan ini menarik perhatian orang asing, khususnya orang dari India pada peringkat awal. Mungkin oleh kerana adanya emas, bukan saja di lembah Sungai Sarawak tetapi juga di bahagian barat-daya Borneo, kawasan yang terbanyak mengandungi emas daripada tempat-tempat lain di kepulauan Melayu, telah dikaitkan dengan nama-tempat Survanabhumi (Bumi Emas) oleh orang India dan juga sebagai Iabadiou oleh Ptolemy pada c.150ES.
Penemuan awal ini telah memberi perangsang kepada Muzium Sarawak untuk melakukan kajian arkeologi. Pada tahun 1949, di bawah pimpinan Tom Harrisson, telah berhasil mengumpulkan ribuan pecahan tembikar China di Santubong. Hasil dari kajian yang dilakukan ke atas tembikar ini serta artifak-artifak keagamaan Hindu mereka berpendapat bahawa Santubong sebagai penempatan sudah wujud sejak abad ke 7 lagi dan terus kekal hingga abad ke-10 atau abad ke-14. Di samping itu adanya tahi besi (iron-slag yang dianggarkan sebanyak 40,000 tan menguatkan pendapat bahawa kawasan Santubong ini merupakan kota-pelabuhan yang besar dan penting. Setelah dikaji oleh kedua orang pakar ini mereka berpendapat bahawa industri ini wujud di antara tahun 900ES hingga 1350ES. Bagaimanapun mengikut O.W. Wolters, seorang sejarawan Asia Tenggara tua, China mungkin telah mengetahui tahi besi ini sejak abad ke 3 lagi dengan mentafsirkan bahawa pulau Tan-lan yang disebut dalam laporan China itu terletak di barat-daya Sarawak. Jika tafsiran sejarawan terkenal ini betul mungkin Tan-lan yang menghasilkan besi ini ialah Pulau Talang-Talang tetapi ahli arkeologi, mahupun Muzium Sarawak tidak pernah mengaitkan pulau ini dengan penemuan tahi besi di kawasan Santubong walaupun pulau ini tidaklah begitu jauh dari tempat tersebut.
Selepas itu terdapat pula pusat petempatan lain di sekitar Santubong seperti Bongkissam. Bagaimanapun dinyatakan bahawa kawasan ini juga dikuasai oleh Santubong yang menjadi sebuah negeri pada waktu itu. Dari kajian yang dilakukan ke atas ribuan serpihan tembikar China negeri Santubong ini terus wujud hingga ke abad ke 14. Pendapat ini dikuatkan lagi dengan tulisan China Nan-hai-chih yang menyenaraikan kerajaan-kerajaan tua di Borneo pada tahun 1304. Pada masa ini Brunei yang ditulis oleh China sebagai Tung-yang Fo ini jelas sekali menguasai keseluruhan utara Borneo. Melalui teks sejarah lama Jawa iaitu Negarakartagama yang ditulis pada tahun 1365 menunjukkan bahawa Brunei (Bo-ni) telah dikuasai pula oleh Majapahit. Permulaan perluasan Majapahit ini dipercayai berlaku pada tahun 1350 dan ini menyebabkan perdagangan dengan China di Santubong terhenti seperti yang terbukti dengan tembikar-tembikar yang dijumpai tidak menunjukkan tembikar Ming. Santubong sebagai nama kerajaan juga turut hilang dan digantikan oleh nama baru, iaitu Sawaku (Sarawak) di dalam Negarakartagama. Kehadiran Majapahit mungkin telah menyebabkan perpindahan penduduk Kerajaan Santubong ini ke kawasan-kawasan lain seperti Sadong dan Gedong.
ii. KERAJAAN NEGERI SAMARAHAN-SADONG
Ketiadaan peninggalan sejarah Kerajaan Santubong selepas kurun ke-14 membuktikan bahawa kerajaan negeri Santubong telah hilang pada waktu itu. Pelbagai pendapat telah diutarakan mengenai kehilangan Kerajaan Negeri Santubong ini. Mungkin pendapat yang mengatakan bahawa telah berlaku peperangan tempatan diantara Puteri Santubong dan Puteri Sejinjang telah memainkan peranan utama sehingga mendesak Datu Merpati Jepang untuk melarikan diri ke kawasan pedalaman Sarawak. Sejarah ini dapat dipastikan dengan wujudnya sebuah tugu di Kampung Mawang Taup, Samarahan yang dinamakan dengan Batu Datu Merpati. Datu Merpati diceritakan telah membina kesinambungan peradapan Kerajaan negeri Santubong di Samarahan pada waktu itu. Disinilah bermulanya perpindahan masyarakat dari kerajaan negeri Santubong ke daerah-daerah seperti Gedong dan Sadong selain daripada daerah Lidah Tanah.
Adanya penemuan tembikar China abad ke 14 dan 15 di dua buah tempat di lembah Sungai Sadong menunjukkan terdapatnya kesinambungan dengan sejarah Kerajaan Negeri Santubong yang wujud di kawasan pendalaman. Di Gedong yang terletak 40 batu dari Santubong telah dijumpai 79,754 pecahan tembikar dan beratus-ratus artifak lain seperti manik, duit siling dan emas. Berdasarkan terdapatnya pecahan tembikar dan benda-benda lain dengan begitu besar berkemungkinan Gedong ini merupakan antara daerah yang memainkan peranan yang agak besar di dalam urusan perniagaan di daerah pedalaman Sarawak. Penemuan beberapa artifak sejarah di Bukit Sandong iaitu 15 batu ke pendalaman Gedong telah menguatkan lagi andaian bahawa telah wujud satu peradaban besar di bahagian Samarahan. Di Bukit Sandong telah dijumpai 30,000 serpihan tembikar yang mempunyai asal dan ketuaan seperti yang terdapat di Santubong dan Gedong. Ketulan emas yang dijumpai oleh orang awam di kawasan Gumpey pada tahun 2008 juga adalah satu lagi bukti Samarahan merupakan satu kawasan yang penting di zaman dahulu kala.
Jika dilihat dari konteks Samarahan sebagai sebuah negeri di bawah jajahan kekuasaan Kesultanan Brunei yang memerintah lebih kurang 500 tahun keatas Sarawak, ianya bermula sejak daripada sultan pertama Kesultanan Brunei lagi iaitu Awang Alak Betatar. Awang Alak Betatar yang memeluk Islam dengan nama Sultan Muhamad dikatakan telah menerima ufti saban tahun daripada kerajaan negeri Samarahan. Di bawah pemerintahan Kesultanan Brunei, Samarahan menjadi sebuah jajahan yang penting. Lembah Sungai Sadong merupakan sebuah kawasan tanah subur yang sesuai untuk pertanian khususnya penanaman padi. Gedong yang terletak hampir di pertengahan sungai telah menjadi sebuah pusat pentadbiran dengan menjadikan Gedung sebagai satu pusat pengumpulkan hasil dan barangan yang melalui Sungai Sadong. Mungkin disini timbulnya nama Gedung pada waktu itu.
Bertitik tolak betapa pentingnya Samarahan kepada kesultanan Brunei pada masa itu, maka ramai masyarakat Melayu Brunei yang telah berpindah ke kerajaan negeri Saramarahan termasuklah golongan bangsawan Brunei yang antaranya Pengiran Kasuma Yuda Pengiran Sharifuddin yang mangkat pada tahun 1832. Pengiran Kasuma Yuda adalah ayahanda kepada Pengiran Indera Mahkota Muhamad Salleh iaitu wakil Sultan Brunei yang telah membuka Kuching suatu waktu dahulu. Jejak warisan keturunan golongan bangsawan ini dapat dibuktikan apabila terdapatnya sebuah Makam Pengiran Anak Sabtu di Muara Tuang, Samarahan yang masih kekal hingga ke hari ini. Antara bukti lain yang mengaitkan kekuasaan dan kewujudan sebuah kerajaan negeri bergelar Kerajaan Negeri Samarahan dinyatakan di dalam sebuah manuskrip kuno Brunei yang dituliskan di dalam huruf Jawi di dalam bahasa melayu Brunei yang berjudul Alamat Zaman Ketakhtaan Negeri Baruni:
“ …… Dan pada masa itu Melaka di atas Kerajaan Negeri Juhur, Awang Alah Betatar beristeri ke Juhur lalu digalar Awang Alak Betatar. Adapun Seri Sultan Muhamad dan saudaranya patih berbai jadi Bendahara Seri Maharaja permaisuri digalar dan pengiringnya yang lain itu digalar Damang/Temenggung Da Patih Damong. Bermacam-macam nama pengawa dianugerahi oleh baginda di Johor. Empat menteri dan askar dengan beberapa dayang-dayangnya dianugerahi nobat nagaragenta alamat serta sakalian alat-alat kerajaan yang berbagai-berbagai dan dianugerahi…buah nagari iaitu Kalaka dan Saribas dan Rajang dan Sadong dan Samarahan dan Sarawak karana di pulau…Johor pun memarintah juga ialah….”
Daripada laporan seorang pengkaji sejarah yang membuat pengkajian tentang artifak-artifak sejarah di Bahagian Samarahan khususnya di Lembah Sungai Sadong iaitu Lucas Chin pula membuat satu kesimpulan iaitu apa yang ditemui di Gedung dan Bukit Sandung telah menyatakan bahawa terdapat satu peradaban yang bertindak sebagai pelabuhan di kawasan pedalaman suatu masa dahulu.
iii. KERAJAAN NEGERI KALAKA
Jika Kerajaan Negeri Santubong dan Kerajaan Samarahan-Sadong mempunyai pertalian yang kuat diantara satu sama lain namun ianya tidak kepada satu lagi kerajaan kuno yang hilang iaitu Kerajaan Negeri Kalaka. Tetapi Kalaka mempunyai hubungkait secara langsung dengan sejarah Datuk Godam dan Pengiran Temenggung Abdul Kadir. Kedua-duanya bukanlah pemerintah untuk Kalaka pada waktu itu tetapi Kerajaan Negeri Saribas yang berpusat di Tandang Sari adalah jiran kepada Kalaka. Ini dapat dibuktikan di dalam Syair Tarsilah Cetera Dato’ Godam dan Temenggung Kadir Negeri Saribas yang dikatakan sebagai sebuah naskah agung yang mempunyai episod di dalam pensyairannya.
Syair Tarsilah Negeri Saribas; “Terhenti dulu kisah itu ..Tersebutlah pula habar suatu..Di Negeri Kalaka habarnya tentu .Dayang Hubu’ Dayangnya Ruku…..”. Inilah bait-bait syair yang mengaitkan bahawa suatu waktu dulu Kerajaan Negeri Kalaka diperintah oleh 2 orang puteri bersaudara yang bernama Dayang Hubu dan Dayang Ruku.
Di dalam konteks sejarah lama Sarawak yang kebanyakan kerajaan lamanya adalah dibawah pengaruh Kerajaan Srivijaya dan Kerajaan Majapahit, nama Kalaka juga dinyatakan di dalam sebuah manuskrip lama berjudul Negarakartagama yang dikarang pada tahun 1365 ada mencatatkan bahawa “Kalka” adalah salah satu daripada kerajaan yang menjadi jajahan empayar besar Majapahit. Selepas kemerosotan empayar Majapahit, Kalaka dikatakan di bawah kekuasaan Kesultanan Melayu Johor dan diserahkan kepada Brunei sebagai satu hadiah kepada rajanya yang pertama iaitu Awang Alak Bertatar yang mengahwini kerabat diraja Johor. Ini dapa dibuktikan melalui sebuah manuskrip bertulisan Jawi Melayu Brunei berjudul Alamat Zaman Ketahtaan Nagari Baruni.
” Maka Awang Alak Batatar dangan Patih Barbai asal raja datang ghaib .... Pengawa jadi Pangiran ialah yang sangat gagah barani pada zamannya itu. Dan pada masa Ratu Malaka di atas karajaan Nagari Juhur, Awang Alak Batatar baristeri ka Juhur ialah digalarkan Awang Alak Batatar ada Seri Sultan Muhamad dan saudaranya Patih Barbai jadi Bendahara Seri Maharaja Permaisuara digalar dan pengiringnya yang lain itu digalar jadi Panggawa dan dianugerahi oleh Baginda di Juhur empat menteri yang basar2 dan babarapa pagawai dan ngaskar dangan babarapa dayang2nya dianugerahi nobat nagara ganta alamat sarta sakalian alat-alat karajaan yang barbagai-bagai. Dan dianugerahi nagari iaitu Kalaka dan Saribas dan Rajang dan Sabangan dan Samarahan dan Sarawak karana di pulau, Juhur pun mamarintah juga. Dianugerahkan sakali kapada anak baginda manjadi milik sapanjang-panjang rantau itu di bawah parintah Sultan Barunai damikianlah riwayatnya pada zaman dahulukala.”
Untuk konteks bukti peradaban moden seperti penyelidikan atas artifak-artifak sejarah pula, banyak penyelidikan ke atas artifak sejarah yang ditemui menuju ke arah Kalaka sebagai sebuah negeri. Lembah Sungai Kalaka yang tidak jauh dari Lembah Sungai Sadong iaitu sekitar 10 batu ke sebelah timur Santubong telah ditemui 9,469 serpihan tembikar China termasuk jenis Sawankhalok dan “blue and white ware”. Dari pengkajian yang dijalankan oleh Lucas Chin menunjukkan bahawa tembikar ini adalah tembikar abad ke 16 dan ke 17. Terdapat juga penemuan artifak bersejarah di Tebing Tinggi yang mana di kawasan ini telah ditemui 41,762 serpihan tembikar yang seusia dan setua artifak yang ditemui di Nanga Kalaka. Dengan penemuan ini sudah cukup membukti bahawa Kalaka juga adalah antara kawasan yang penting di suatu waktu dahulu sehingga saudagar dari Tanah Besar China turut datang berniaga.
iv. KERAJAAN NEGERI SARIBAS
Kerajaan Negeri Saribas sebenarnya berkongsi muara Batang Saribas dengan ibu kota Kerajaan Negeri Kalaka yang diperintah oleh 2 orang ratu bersaudara iaitu Dayang Hubu dan Dayang Ruku. Kerajaan Negeri Saribas jajahan takluknya adalah lebih besar daripada Kerajaan Negeri Kalaka iaitu ianya mencakupi pertemuan Batang Saribas dengan Sungai Rimbas di sebelahnya. Pusat ibukota Kerajaan Negeri Saribas adalah Tandang Sari atau pada masa sekarang digelar Pusa. Di dalam manuskrip lama dinyatakan bahawa Kerajaan Negeri Saribas ini wujud sekitar abad ke-17 lagi. Kerajaan Negeri Saribas ini dinyatakan bahawa ianya diperintah oleh seorang pembesar Kesultanan Brunei iaitu Pengiran Temenggong Datu Abdul Kadir. Dikatakan Pengiran Temenggung ini telah membawa diri daripada Brunei memandangkan anak tunggalnya Dang Chi’ atau Dayang Esah telah diambil oleh Sultan Brunei untuk menjadi isteri yang ke-3. Sewaktu beliau menjadi pemerintah Saribas beliau telah bertemu dengan seorang putera dari Pagaruyung, Minangkabau iaitu Dato Gudam atau Raja Umar yang menyamar sebagai saudagar penjual kain.
Dato Gudam merupakan putera kepada Bendahara Harun, pembesar di Pagaruyung. Ketibaannya ke Saribas adalah kerana membawa hati yang kecewa setelah ditidakkan hak untuk menggantikan ayahandanya kerana dikatakan bukan bangsa Minang sejati kerana ibunya adalah berketurunan Belanda. Setelah mengenali Pengiran Temenggong, beliau telah bersetuju untuk membantu Pengiran Temenggong mengambil anaknya semula daripada menjadi isteri ketiga kepada Sultan Brunei pada masa itu. Sopan santun dan kepintaran Dato Godam telah memikat hati Sultan Brunei sehingga beliau menjadi orang penting di Brunei dan dikahwinkah oleh Sultan Brunei dengan Dayang Esah atas permintaan Dato Godam sendiri. Sebelum beliau berangkat pulang ke Pagaruyung atas permintaan ayahandanya, Sultan Brunei telah meminta beliau meninggalkan salah seorang anaknya di Brunei maka ditinggalkannya Datu Mantri anak keduanya dan disinilah permulaannya asal-keturunan. “Awang Damit-damit” iaitu asal keturunan Awang dan Dayang di dalam masyarakat Melayu Sarawak.
Kepulangan Dato Godam yang singgah sebentar di Saribas telah memberi perkhabaran gembira kepada Pengiran Dato Temenggung Abdul Kadir yang akhirnya mangkat dan Dato Godam menjadi pengganti pemerintah kepada Kerajaan Negeri Saribas.
Anak sulungnya Dato Uban pula telah menggantikan beliau dengan mewarisi nama Abang dan Dayang di dalam salsilah keturunannya. Dan disinilah bermulanya asal-keturunan Melayu Sarawak yang menggunapakai nama Abang dan Dayang. Di dalam Kerajaan Negeri Saribas inilah gelaran jawatan seperti Datu Patinggi, Datu Bandar, Aulaksamana, Datu Imam dan Datu Hakim bermula iaitu mengikut acuan jawatan dan gelaran bagi Kesultanan Brunei pada zaman itu. Dan kerana itulah banyak jawatan gelaran di dalam pemimpin masyarakat Melayu Sarawak masih lagi menggunakan Datu Patinggi, Datu Bandar sehinggalah sekarang. Kewujudan Dato Gudam ini dapat disahihkan dalam beberapa segi seperti wujudnya sebuah makam lama di Pusa yang masih menjadi tanda sejarah untuk Kerajaan Negeri Saribas. Makam Dato Gudam adalah hanya selang beberapa meter daripada Makam Pengiran Temenggung Abdul Kadir dan juga Dayang Esah.
Keberadaan Kerajaan Negeri Saribas ini juga dicatatkan di dalam jurnal pengembaraan James Brooke yang mana di dalam jurnalnya ada mengatakan beliau telah singgah di sebuah negeri di dalam kawasan Sungai Saribas yang mempunyai banyak persamaan dengan jawatan pembesar di Brunei dan beliau berkesempatan berkenalan dengan seorang Aulaksamana Saribas yang berusia 90 tahun.
v. KERAJAAN NEGERI MALANO
Untuk Kerajaan Negeri Malano ianya tiada kaitan langsung dengan mana-mana kerajaan negeri yang dimaksudkan. Politi kerajaan yang hilang ini terletak di Kuala Sungai Rejang, iaitu sungai selepas Sungai Kalaka. Jika dilihat kepada kewujudan nama Melanau itu sendiri mengikut sejarahnya adalah diberikan oleh Sultan Brunei keatas satu masyarakat yang menggelar diri mereka Likao iaitu masyarakat yang tinggal di persisiran Sungai Rejang. Kewujudan politi kerajaan ini dikatakan telah wujud sejak kurun Ke-13 lagi. Berkemungkinan besar Tugau iaitu seorang raja yang penuh dengan kesaktian itu adalah raja pemerintah kepada kerajaan negeri melano ini yang pertama.
Ini dapat disahihkan di dalam manuskrip sejarah kerajaan Brunei yang menyatakan bahawa di awal pemerintahan raja pertama Kerajaan Bo-ni iaitu sewaktu kemerosotan pengaruh kerajaan Majapahit ke atas wilayah di Borneo sewaktu pemerintahan Sultan Muhammad Shah iaitu sultan yang pertama Kerajaan Kesultanan Melayu Brunei, wilayah Tutong yang ketika itu dibawah pentadbiran pembesar kerajaan Melanau iaitu Mawanga telah diserang oleh orang-orang kanan Sultan iaitu Awang Semaun, Awang Jeramabak dan Pateh Damang Sari. Pertempuran untuk perluasan kuasa Kerajaan Brunei ini telah juga sampai sehingga ke Igan iaitu satu lagi jajahan Kerajaan Melano dibawah Basiung iaitu ipar kepada Raja Tugau. Walau bagaimanapun, Basiung dan Raja Tugau yang mendapat bantuan daripada Kerajaan Sambas dan juga jajahannya yang lain tidak dapat menandingi jumlah tentera pimpinan Awang Semaun ini ditambahlagi kerajaan Brunei telah mendapat sokongan daripada masyarakat Iban Sarawak yang mengambil peluang untuk menjalankan tradisi ngayau kepada masyarakat Melanau pada waktu itu. Setelah kekalahan di dalam pentempuran itu maka banyak wilayah Kerajaan Melano telah jatuh kepada kerajaan Kesultanan Brunei selepas itu.
Satu lagi manuskrip kuno yang membenarkan bahawa ada satu kerajaan wujud satu ketika dahulu adalah ianya tertulis di manuskrip sejarah kuno Nagarakertagama yang ditulis pada tahun 1365. Di dalam manuskrip ini menyatakan ketika zaman kerajaan Majapahit mencapai puncak kegemilangannya iaitu sewaktu Hayam Wuruk memerintah ada menyebut Malano dan Brunei sebagai sebahagian daripada pembayar ufti kepada kerajaan Majapahit tersebut. Jika Malano membayar ufti bermakna Malano bukanlah satu jajahan kecil sebaliknya sebagai sebuah kerajaan besar yang mencakupi beberapa jajahan kecil yang lain.
Jika dilihat daripada konteks jurnal-jurnal pengembaraan kuno sememangnya banyak tercatat bahawa Malano adalah sebuah peradapan suatu ketika dahulu. Catalan Atlas yang diwartakan pada tahun 1375 ada menunjukkan peta Kerajaan Malano di dalamnya malah ianya disahihkan di dalam peta orang Portugis yang menyatakan bahawa wujud sebuah politi bernama Malao di dalam peta pengembaraan mereka. Manakala di Florence, Italy sebuah peta lama bertarikh 1595 ada mencatatkan bahawa kawasan persisiran barat Sarawak yang kini dikenali sebagai daerah Oya, Balingian dan Daerah Mukah juga ditandakan sebagai Malano. Malah ada rekod di dalam jurnal pengembaraan Negara Tembok Besar China iaitu Nan-hai-chih ada menyebut Achen atau Igan sebagai sebuah peradapan suatu ketika dahulu dan membuktikan bahawa saudagar-saudagar China juga pernah berkunjung ke Kerajaan Negeri Malano untuk berurusniaga.
Inilah sekelumit ruang informasi menerusi artikel The Lost Kingdom Of Sarawak - Untold History yang mana ianya mempunyai bukti-bukti kukuh samada daripada penemuan tembikar atau barangan purba di kawasan sekitarnya serta beberapa dokumen sejarah lama yang membenarkan bahawa SARAWAK MEMPUNYAI 5 KERAJAAN KUNO YANG TIDAK DIDENDANGKAN untuk pengetahuan sejarah anak bangsa Sarawak sekalian. Sesungguhnya inilah sejarah asal kita yang seharusnya TIDAK DILENYAPKAN kerana disinilah bermula peradaban untuk bangsa Sarawak sekalian.
Jika hendak membunuh pokok, racunkanlah akarnya; Jika hendak membunuh bangsa, lenyapkanlah sejarahnya.

Copy and paste:
12.3.2024 > 1 Ramadan 1445H: 7.27 am