Saturday, 23 September 2023

SEJARAH ISLAM MASUK KE VIETNAM

POSTED BY IBN KAMAL > PERISTIWA N' SEJARAH

Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha.Di Vietnam, Islam menjadi agama minoritas yang hanya dianut oleh Muslim Campa atau juga dikenal dengan sebutan suku Cham. Sementara sebagian kecil Muslim di Vietnam berasal dari beberapa etnis lainnya.Berkembangnya Islam di Vietnam dibawa oleh pedagang dari India,Parsi dan Arab.
BERIKUT INI SEJARAH ISLAM DI VIETNAM.
Penyebar agama Islam di Vietnam yang pertama diperkirakan berasal dari kekhalifahan Utsman bin Affan.Para pedagang Muslim diduga telah berhenti di pelabuhan Kerajaan Champa di Vietnam pada abad ke-7,sewaktu dalam perjalanan ke China.Namun, para ahli sejarah sepakat menyatakan bahwa Islam telah sampai di Vietnam pada abad ke-10 dan 11.
Hal ini didasarkan pada catatan Dinasti Song di China yang menyatakan bahwa Champa mulai beradaptasi dengan Islam pada akhir abad ke-10 dan awal abad ke-11.Catatan Dinasti Song menyebutkan bahwa mulai 986, ratusan orang dari Champa, yang dipimpin oleh Pu Bo E (Abu Nurs), tiba di Hainan,kerana pergolakan kerajaan.Bukti lain, dua makam pedagang Muslim bertanggal 1039 ditemukan di Phan Rang (Panduranga, selatan Champa),sebagai tanda adanya komuniti Muslim kecil di Champa pada abad ke-11.
Agama Islam dipercayai dibawa oleh pedagang dari India, Parsi dan Arab, yang melakukan hubungan dagang di wilayah Kerajaan Champa. Mulai saat itulah, pengaruh Islam mulai berkembang di wilayah Kerajaan Champa, yang disusul dengan penghijrahan bangsa Mongol ke Vietnam.Beberapa panglima Mongol yang beragama Islam juga memiliki pengaruh terhadap penyebaran Islam di Vietnam. Champa pun berubah menjadi kerajaan Islam setelah Raja Che Bo Nga diislamkan oleh Sayyid Hussein Jumadil Kubro dan mengubah namanya menjadi Sultan Zainal Abidin (1360-1390). Berkembangnya Islam di Vietnam semakin meningkat setelah Champa memiliki hubungan dengan Kesultanan Melaka.
PERKEMBANGAN ISLAM DI VIETNAM HINGGA PADA ABAD ke-17
Islam di Champa berkembang seiring dengan dijalinnya hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sebuah catatan Sepanyol di akhir 1580-an melaporkan bahawa banyak Muslim tinggal di Champa. Bahkan kala itu, Islam berkembang seiring dengan perkembangan agama Hindu. Sehingga, menghasilkan banyak masjid yang berdiri bersama dengan kuil-kuil Hindu. Pada era ini,banyak lahir manuskrip tentang kisah Syaidatina Fatimah putri Nabi, asal-usul masjid, Malaikat Jibril, dan beberapa kisah lainnya. Selain itu, Sunni menjadi aliran Islam yang berkembang di Vietnam.
PERKEMBANGAN ISLAM SETELAH PERANG VIETNAM
Runtuhnya Champa Pada tahun 1832 membuat perkembangan Islam terencat.Setelah itu, sempat terjadi migrasi Muslim dari Kemboja ke wilayah Vietnam, tepatnya di Delta Mekong yang berada di sebelah barat daya Vietnam. Hingga sebelum terjadinya perang saudara Vietnam atau Perang Vietnam (1955-1975), Muslim Champa masih berkembang.
Namun, setelah Perang Vietnam selesai pada 1975 dan dimenangkan oleh pihak komunis, timbul kekhawatiran di pihak Muslim Vietnam di Delta Mekong. Muslim di Vietnam kemudian migrasi secara besar-besaran ke Kamboja dan beberapa wilayah di sekitarnya.
Migrasi tersebut membuat populasi Islam di Vietnam berkurangan secara drastik dan terpinggirkan. Hingga saat ini, umat Islam di Vietnam masih ada, meski sedikit jumlahnya. Kebanyakan Muslim di Vietnam adalah Islam Sunni yang bermazhab Syafi'i. Pada 2019, tercatat hanya terdapat 41 masjid yang berdiri di Vietnam, beberapa di antaranya adalah Masjid Phuic Nhon, Masjid An Xuan, Masjid Van Lam, dan Masjid Nho Lam.
Penulisan:Aizid, Rizem. (2021).
Sejarah Lengkap Peradaban Islam Era Klasik,
Pertengahan dan Moden..
SUMBER:Kompas online
Copy and paste:
23/9/2023 > 7 Rabiulawal 1445H: 11.47 am

KERAJAAN CHAMPA

POSTED BY IBN KAMAL > PERISTIWA N' SEJARAH




Kerajaan Champa adalah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Vietnam Selatan.Kerajaan yang awalnya bercorak Hindu-Buddha ini dipercayai telah wujud sejak akhir abad ke-2, dan bertahan hingga abad ke-19.Dalam sepanjang perkembangannya,Kerajaan Champa berubah menjadi kerajaan Islam yang memiliki pengaruh di Asia Tenggara. Bahkan, kerajaan ini memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia.
SEJARAH TERDIRINYA KERAJAAN CHAMPA
Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Lam Ap atau Linyi, yang sudah ada sejak akhir abad ke-2, tepatnya pada tahun 192. Sebelumnya, wilayah Vietnam merupakan pecahan dari koloni Tiongkok, yang kemudian memberontak dan melepaskan diri. Tokoh yang memberontak tersebut adalah Khu Lien, yang akhirnya mendirikan Kerajaan Lam Ap pada akhir abad ke-2.Kerajaan Lam Ap ini berkembang dan berubah namanya menjadi Kerajaan Champa, yang pada abad ke-14 menjadi kerajaan Islam. Hanya saja, perubahan dari Kerajaan Lam Ap menjadi Champa sangat minim catatan sejarahnya. Diketahui bahwa penguasa pertama Champa adalah Bhadravarman I, yang memerintah sekitar tahun 380 hingga 413.Pasa awalnya, pusat pemerintahan Kerajaan Champa berada di Kota Indrapura. Akan tetapi, dalam perjalanannya, ibu kota kerajaan beberapa kali dipindahkan.
ZAMAN KEGEMILANGAN
Kerajaan Champa mengalami periode kejayaan pada abad ke-7 hingga abad ke-10, di bawah pemerintahan Raja Prithindravarman hingga Raja Jaya Simhavarman II. Indrapura, yang merupakan pusat pemerintahan, menjadi kota yang maju karena didukung oleh pelabuhannya menjadi tempat perdagangan internasional. Selain itu, Champa juga berhasil menguasai perdagangan rempah-rempah dan sutra di Asia Tenggara.
BERUBAH MENJADI KERAJAAN ISLAM
Sebelum masuknya pengaruh Islam pada abad ke-11, Kerajaan Champa merupakan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Masuknya Islam dibuktikan dengan adanya batu nisan Abu Kamil yang berangka tahun 1039. Namun, catatan sejarah menjelaskan bahwa Raja Che Bong Nga, yang memerintah antara 1360-1390, adalah Raja Champa pertama yang beragama Islam.
Raja Che Bong Nga diislamkan oleh Habib Sayyid Husein Jumadil Kubro, yang berasal dari Timur Tengah. Setelah itu, Che Bo Nga berganti nama menjadi Sultan Zainal Abidin, dan Champa berubah menjadi kerajaan Islam. Pengaruh Islam semakin berkembang di Champa pada abad ke-15,di mana semua penduduknya banyak yang menjadi Muslim. Kemudian, pada sekitar abad ke-17, banyak bangsawan Champa yang mulai memeluk agama islam.
HUBUNGAN KERAJAAN CHAMPA DENGAN NUSANTARA
Champa banyak disebutkan dalam kisah-kisag sejarah Nusantara.Salah satu sumber turut menyebut hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya, yang merupakan kerajaan maritim, sangat penting bagi Champa sebagai pusat transit pelbagai negara..
Kedua kerajaan ini bahkan menjadi sekutu dan saling melindungi dari berbagai ancaman yang datang. Misalnya ancaman perompak yang sempat menyerang ke pusat Champa. Di masa berikutnya, Champa menjalin relasi dengan kerajaan di Sumatera dan Jawa. Disebutkan bahwa ketika Kerajaan Champa diperintah oleh Jaya Simhawarman III, turut andil dalam menghalangi serbuan Mongol ke Jawa. Hal ini dilakukan karena Raja Kertanegara dari Singhasari, menikahkan Simhawarman dengan putrinya, Putri Tapasi. Hubungan Kerajaan Champa dengan Jawa berlanjut hingga ke masa Kerajaan Majapahit.
Ini disebabkan Putri Champa yang bernama Darawati dipercayai menjadi permaisuri Prabu Brawijaya V. Pernikahan mereka melahirkan Raden Patah, yang nantinya mendirikan Kerajaan Demak.
TEMPAT ASAL WALI SONGO!?
Berkembangnya Islam di Champa juga berpengaruh besar terhadap keislaman di Nusantara, khususnya Jawa. Pasalnya, beberapa Wali Songo, yang menjadi penyebar Islam di Jawa, adalah keturunan Kerajaan Champa. Putra Jumadil Kubro yang bernama Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy atau Ibrahim Asmoro, menikah dengan Chandra Wulan, putri Raja Champa. Mereka adalah orang tua Sunan Ampel. Tidak hanya itu, Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Undatuddin atau Wan Bo Tri Tri, yang meneruskan jabatan Raja Champa periode 1471-1478, menikah dengan Nyi Mas Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Mereka mempunyai putra yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati adalah dua anggota Wali Songo yang berperan besar dalam mengislamkan Jawa.
RUNTUHNYA KERAJAAN CHAMPA
Selama berdiri, Kerajaan Champa memiliki musuh abadi, yakni Bangsa Khmer yang berasal dari Kamboja. Konflik antara Champa dan Khmer berlangsung sejak abad ke-10 hingga abad ke-15, ketika Kota Vijaya dihancurkan oleh Khmer. Kehancuran Vijaya ini berdampak pada tewasnya sekitar 60.000 orang dan sisanya dijadikan budak. Lihat Foto Akibatnya, banyak masyarakat Islam Champa yang kemudian bermigrasi ke Kamboja, Malaka, Aceh, dan daerah lain di Sumatera. Selain konflik dengan Khmer, Champa juga mengalami serangan dari penguasa lain di Vietnam. Riwayat Kerajaan Champa berakhir pada 1832, setelah dihapuskan oleh Kaisar Minh Ming dari Dinasti Nguyen.
PENINGGALAN KERAJAAN CHAMPA
Kerajaan Champa memiliki beberapa peninggalan yang masih boleh disaksikan hingga saat ini.Berikut ini beberapa di antaranya.
i) MENARA PO KLONG
Garai Candi atau Menara Po Klong Garai didirikan oleh Raja Jaya Simhavarman III atau Che Man (1285-1307), sebagai penghormatan terhadap Raja Po Klong Garai (1151-1205). Hal ini karena Raja Po Klong Garai berhasil menyelesaikan konflik antara Champa dengan Khmer tanpa pertumpahan darah. Candi Po Nagar Candi Po Nagar, yang berada di Kota Kauthara (sekarang Kota Nha Trang), didedikasikan untuk Po Nagar, yang dianggap sebagai penemu daripada bangsa Cham dan seorang dewi yang akan merawat bumi.
ii) SITUS MY SON
Situs My Son atau Mi Son berada di Kota Hoi An, yang didirikan oleh Raja Dhadravarman I atau Pham Ho Dat (380-413). Di dalam situs ini, terdapat sekitar 70 candi yang kemudian hilang saat pecah Perang Vietnam. Situs My Son atau Mi Son dahulu digunakan sebagai pusat keagamaan dan makam untuk tokoh agama dan pejabat kerajaan yang dianggap suci.
iii) SITUS DONG DUONG
Situs Dong Duong dibangun pada masa pemerintahan Raja Jaya Indravarman I atau Dich Loi Nhan di Ban (959-965). Situs ini sempat rusak berat akibat Perang Vietnam yang berlangsung selama dua dekade. Sekarang, situs ini telah dipugar dan terdiri dari lapangan, aula pertemuan, candi suci, dan dua patung perunggu.
Penulisan;
Aizid Rizem. (2021).
Sejarah Peradaban Islam Yang Lengkap Pada Era Kuno,Pertengahan, dan Moden
Yogyakarta: DIVA Press. hlm 479.
Sumber diambil dari kompas online..
Copy and paste:
23/9/2023 > 7 Rabiulawal 1445H: 11.33 am

Friday, 22 September 2023

Tenggelamnya Lembah Nenggiri

OLEH: SRIKANDI

Penemuan rangka manusia lengkap di Gua Keledung Kecil itu sememangnya satu khazanah terpenting sejarah tamadun dan kebudayaan manusia, khasnya di Malaysia.
Ini kerana, rangka manusia yang ditemui dalam kedudukan melipat sepenuhnya dan menghadap ke arah barat daya, dipercayai mendiami lembah tersebut sejak 14,000 tahun lalu iaitu lebih tua daripada Perak Man yang sebelum ini dianggarkan wujud sejak 10,000 hingga 11,000 tahun dahulu.
Namun berita penemuan rangka manusia ini diiringi dengan satu berita lain.
Nampaknya ini seperti situasi: satu berita gembira satu berita sedih.
Berita sedihnya: berbaki lima tahun sahaja lagi, sebahagian Lembah Nenggiri yang kaya dengan khazanah warisan purba serta tapak arkeologi dijangka tenggelam sepenuhnya sehingga menyukarkan kerja ekskavasi untuk dijalankan pada masa akan datang.
Projek Empangan Hidroelektrik Nenggiri yang dijangka siap sepenuhnya pada pertengahan tahun 2027 akan menenggelamkan gua yang mempunyai warisan arkeologi seperti Gua Cha, Gua Chawan, Gua Kecil (Batu Tambah), Gua Lubang Kelawar (Batu Tambah), Gua Keledung, Gua Rahmat, Gua Gemalah dan Gua Kelew.
Jumlah tapak yang terlibat boleh tahan banyaknya. Menurut Ketua Penyelidik Prof Madya Dr Zuliskandar Ramli, kerja-kerja ekskavasi itu (yang juga melibatkan rangka manusia di Gua Keledung Kecil itu) adalah salah satu langkah mitigasi pihak Tenaga Nasional Berhad (TNB) untuk projek pembinaan empangan Nenggiri yang melibatkan 14 buah gua secara keseluruhannya. Kerja ekskavasi menyelamat ini dijalankan oleh Pakarunding UKM dengan melibatkan lebih 30 orang yang terdiri daripada pakar arkeologi, pembantu penyelidik, mahasiswa UKM serta dibantu penduduk kampung berdekatan.
Sepanjang tempoh itu, pihaknya telah menemui ribuan artifak dan ekofak yang terdapat di sekitar Lembah Nenggiri seperti serpihan tembikar tanah, alat batu, peralatan batu seperti alat penetak, alat pengetuk dan alat repeh yang digunakan untuk meraut serta sisa makanan seperti cangkerang siput dan tulang binatang.
Ada perkara tersirat di sini - jika tidak diketahui akan adanya projek yang bakal menenggelamkan tapak-tapak arkeologi begini maka mungkin tidak akan ada usaha yang benar-benar efektif nak menyelamat atau menyelidik tapak-tapak itu.
Tiada alasan untuk menyalurkan dana, mungkin. Sebab sepatutnya, rangka manusia ini sudah ditemui lebih awal. Bila ada usaha kecemasan sebegini, barulah jumpa. Maksudnya negara kita masih menyimpan banyak KHAZANAH sejarah yang MASIH BELUM DIEKSKAVASI sepenuhnya. Jika ada dana yang mencukupi dan usaha bersungguh-sungguh dari pakar dan pihak-pihak lain yang berwajib, kita pasti akan menerokai lebih banyak lagi penemuan sejarah.
Nasib tapak arkeologi Lembah Nenggiri bakal mengulangi skrip yang berlaku di Terengganu apabila tapak arkeologi Gua Bewah, di Hulu Terengganu sebahagiannya tenggelam selepas Empangan Hidroelektrik Kenyir siap pada tahun 1985.
Di Gua Bewah, ekskavasi sejak tahun 1970-an menemukan rangka manusia prasejarah dan artifak primitif seperti peralatan batu, serpihan tembikar dan banyak lagi. Dilaporkan masih ada ekskavasi dilakukan, namun sukar untuk kajian lanjut dijalankan.
Begitulah nasib apa yang berlaku kepada sejarah kita. Pembangunan, mungkin tidak boleh dielakkan. Tetapi sebelum 'pembangunan' dijadikan alasan, lebih baik ikhtiar yang padu dan berterusan digerakkan untuk meneroka penemuan-penemuan baharu di negara kita. Penemuan rangka-rangka manusia purba ini adalah petanda yang baik untuk dunia arkeologi Malaysia.
Jika memahami pergerakan manusia awal, ada 'something' di sini ribuan tahun dahulu.
~Srikandi
Kredit: Sinar, Hmetro
Copy and paste:
22 September 2023 > 7 Rabiulawal 1445H: 9.18 pm

Monday, 18 September 2023

SEJARAH KEBANGKITAN MELAYU

Posted by Ibn Kamal > PERISTIWA N' SEJARAH

Sejarah bangsa Melayu bermula sejak abad pertama Masehi lagi. Ia ditandai dengan wujudnya kerajaan-kerajaan besar dalam sejarahnya. Sejarah awal rumpun Melayu di kepulauan Melayu terdiri daripada kerajaan Funan (Abad Pertama Masihi), Champa (Abad Kedua hingga Ketujuh Masihi), Sriwijaya (Abad Ketujuh), Melayu-Brunei (Abad kesembilan), Cilantan di Kelantan (1225M), Tatan di Terengganu (1365M), Kedah Tua (1400M), Gangga Negara di Perak, Palembang (Abad ke-12), Majapahit (Abad ke-13), Temasik (Abad ke-13) dan Kesultanan Melayu Melaka (1400 – 1511M).
Bangsa Melayu melalui sejarah yang cukup panjang dalam konteks pembinaan jati diri dan kebangkitannya. Pada awalnya pengaruh Hindu-Buddha cukup kuat mempengaruhi cara hidup orang Melayu, tetapi sejak Islam bertapak dan munculnya Kesultanan Melayu Melaka, kebangkitannya sebagai sebuah bangsa yang dihormati dan disegani semakin nyata.
1. KESULTANAN MELAYU' MELAKA
Kesultanan Melayu Melaka yang dimulakan oleh Parameswara pada tahun 1402m namun ada fakta menyebutkan Melaka sudah terbina pada 1262 masehi dan telah berkembang dgan pesatnya,khususnya dengan kedatangan agama Islam ke rantau ini. Melaka berkembang menjadi pusat penyebaran Islam,pusat perdagangan dan yang paling penting, identiti Melayu sebagai sebuah bangsa mula terserlah.
Pada zaman kegemilangannya, Kesultanan Melayu Melaka bukan sahaja merupakan sebuah pelabuhan entreport, tetapi juga merupakan “emporium” dan pusat utama perdagangan antarabangsa yang terkenal pada abad ke-15 dan 16. Kenyataan ini digambarkan dalam Sejarah Melayu seperti berikut:
“Maka segala dagang atas angin dan bawah angin sekaliannya datang ke Melaka; terlalu ramai bandar Melaka pada zaman itu. Maka segala orang Arab dinamai Malakat, ertinya perhimpunan segala dagang, kerana banyak jenis dagangan ada di sana…” (h. 61).
Hal ini turut diakui oleh seorang pedagang Portugis yang kemudiannya menjadi sarjana dalam bukunya yang berjudul 'The Suma Oriental':
“There is no doubt that the affairs of Malacca are of great impertance, and of much profit and great honour. It is a land that cannot depreciate on account of its position, but must always grow. No trading port as large as Malacca is known, nor any where they deal in such fine and highly-prized merchandise. Goods from all over the East are found here; goods from all over the West are sold here. It is at the end of the monsoons where you find what you want and sometimes more then you are looking for” (Muhammad Yusof Hashim, h. 251).
Kenyataan itu ditambah lagi dengan kajian Melink-Roelofsz yang mencatatkan bahawa saudagar-saudagar ini sebagai:
“… flocked together every year in Malacca, which was then the center of inter-Asian trade. Like a rich and colourful pageant under the blazing tropical sun, this busy eastern market made an indelible impression on the first Europeans who visit Malacca” (MYH, h. 251).
Sumber-sumber sejarah tulisan Duarte Barbosa, Ruy De Brito, De Araujo, De Eridia, De Albuquerque, Gibson-Hill, Ma Huan, Fei Hsin dan catatan pelayaran Ibnu Batuta serta kajian Wang Gung Wu juga jelas membuktikan kenyataan tersebut.
Kesultanan Melayu Melaka juga berjaya meluaskan jajahan takluknya sehingga berkembang menjadi sebuah empayar yang dihormati kawan dan lawan. Kehebatan Sultan Muzaffar Shah, Sultan Mansor Shah dan Sultan Alauddin Riayat Shah, kebijaksanaan dan kecekapan Bendahara Tun Perak dan keperkasaan Hang Tuah lima bersaudara jelas teserlah apabila Pattani, Kedah, Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak, Kelang, Johor, Temasik, Riau, Lingga, Aru, Rokan, Siak, Jambi, Kampar dan Inderagiri akhirnya bernaung di bawah Kesultanan Melayu Melaka.
Sultan Alauddin Riayat Shah dianggap sebagai sultan Melaka yang unik keran baginda adalah seorang raja yang kuat beribadah dan gagah-berani, sering meronda di bandar Melaka pada waktu malam dan pernah menewaskan sekumpulan pencuri. Baginda adalah seorang raja yang berjiwa rakyat dan “action-oriented"
(MYH, h. 113).
Pada zaman pemerintahannyalah kedudukan Islam sampai ke kemuncaknya apabila undang-undang Islam dilaksanakan sepenuhnya dalam pentadbiran Kesultanan Melayu Melaka.Pentadbiran Melaka pula diurus-tadbir dengan adil dan berhemah di bawah pimpinan Bendahara Paduka Raja Tun Perak. Beliau sentiasa membuat pertimbangan yang adil, mengambilkira semua pandangan dan mementingkan perpaduan dan suasana keharmonian masyarakat. Beliau sentiasa berusaha menyelesaikan sebarang masalah yang timbul dalam masyarakat Melaka dengan penuh kebijaksanaan.
Kesultanan Melayu Melaka bukan sekadar meluaskan jajahan takluknya, malah dengan bantuan tokoh-tokoh ulama dari Arab dan Parsi, Islam disebarkan ke seluruh Nusantara. Melaka kemudian menjadi pusat perkembangan dan penyebaran ajaran Islam di Asia Tenggara. Melalui dakwah para ulama, hubungan ulama dengan sultan dan pembesar, kitab-kitab agama dan pengiktirafan bahasa Melayu sebagai “lingua franca” penyampai risalah Islamiah, seluruh alam Melayu akhirnya menganut agama samawi itu.
Jasa Tun Perak selaku Bendahara kepada empat sultan Melaka dalam konteks penyebaran Islam juga amat penting. Beliau merupakan negarawan Melayu yang boleh dianggap sebagai “grand designer” kepada kebangkitan Melayu “baru” pada zaman itu. Beliaulah tokoh ulung dan pemimpin Melayu yang amat besar sumbangannya kepada perjuangan mengangkat maruah, martabat, darjat dan harakat bangsa Melayu.
Islam bukan sahaja menjadi teras kehidupan masyarakat Melayu, bahkan dijadikan agama rasmi negara. Sultan-sultan menjalankan pemerintahan berdasarkan hukum dan undang-undang Islam. Tradisi peundangan islam ini dicatat dengan jelasnya dalam naskhah Hukum Kanun Melaka dan Undang-undang Laut Melaka. Ia menumpukan hal-hal yang berkaitan dengan peraturan pemerintahan,hukum jenayah, undang-udang keluarga Islam, huku adat (Temenggong), pentadbiran perniagaan dan peraturan perdagangan laut Melaka.
Kegemilangan zaman Kesultanan Melayu Melaka adalah disebabkan ketinggian ilmu dan keteguhan penghayatan orang Melayu terhadap ajaran Islam, kedaulatan raja-raja Melayu, kebijaksanaan pentadbiran, kesetiaan penduduk tempatan dan sokongan moral daripada kerajaan lain yang bersahabat dengannya.
Jelaslah bahawa orang Melayu ketika itu telah memenuhi peranan sejarah zaman mereka melalui pembinaan asas penempatan, struktur sosial masyarakat, sistem ekonomi, sistem politik dan pentadbiran, budaya ilmu, bahasa dan kebudayaan yang dicirikan oleh ajaran Islam. Mereka telah berjaya mewariskan agama Islam, tanah air, kuasa, tamadun ilmu, perpaduan bangsa, faham kebangsaan Melayu, budaya yang berlandaskan nilai-nilai murni (sifat mahmudah) dan visi sejarah masa hadapan yang gemilang kepada generasi Melayu hari ini.
2. ZAMAN PENJAJAHAN DAN PENINDASAN BARAT
Kesultanan Melayu Melaka mulai merosot apabila Sultan Mahmud Shah melaiki tahta pada tahun 1488. Baginda adalah seorang raja (pemimpin) yang mempunyai sifat mazmumah, sifat-sifat tercela – zalim, boros, suka berfoya-foya, kaki perempuan, tidak bertimbang rasa dan tidak usul periksa. Dalam buku Suma Oriental, Sultan Mahmud Shah digambarkan sebagai:
“… intoxicated with opium everyday… was a great eater and drinker brought up to live well and viciously… He was called Sultan Mafamud” (MYH, h. 49).
Akibatnya berlakulah perebutan kuasa di kalangan para pembesar sehingga pentadbiran Melaka menjadi kucar-kacir dan akhirnya orang Melayu berpecah-belah. Kesempatan ini digunakan sepenuhnya oleh Portugis yang pimpin oleh Alfonso d’Albuquerque dengan menyerang Melaka pada tahun 1511.
Kedatangan penjajah Portugis bukan sahaja untuk menguasai pusat pedagangan yang penting, tetapi juga dengan misi 3G iaitu “Gospel, Gold and Glory”. Gospel (Keagamaan) adalah misi Prestor John untuk menghapuskan Islam dan mengkristiankan orang Melayu; Gold (Kekayaan) adalah misi untuk memecahkan monopoli perdagangan rempah Melaka-Arab; dan Glory (Kemegahan) pula adalah misi untuk memperluaskan jajahan takluk yang kononnya atas galakan Raja Henry.
Walaupun Portugis mempunyai senjata yang jauh lebih canggih dan bala tentera yang terlatih, namun mereka telah ditentang oleh hulubalang-hulubalang Melaka demi mempertahankan tanah air tercinta hingga ke titisan darah yang terakhir. Ini dicatatkan dalam Sejarah Melayu seperti berikut:
“Maka bagindapun (Sultan Ahmad) keluarlah dengan segala hulubalang. Maka peranglah dengan Feringgi beramuk-amukan. Seketika perang itu, maka rakyat Feringgipun undur daripada semangat tempuh orang Melaka. Maka tampil Alfonso d’Albuquerque dengan seribu rakyat soldadu beristinggar, merempuh segala orang Melaka… Daripada semangat tempuh anak Portugal, maka pecahlah perang orang Melayu, lalu undur” (h. 203).
Bukan sedikit korban perjuangan bagi mempertahankan kedaulatan Melayu dan Islam ketika itu, malah beribu-ribu pahlawan Melayu dipercayai terkorban sebagai syuhada di Kota Melaka, di Sayong Pinang, di Kota Tinggi, di Batu Sawar, dan seterusnya di Makam Tauhid, Bukit Selanyut dan Johor Lama. Kesultanan Melayu Johor-Riau kemudian ditubuhkan bagi meneruskan kesinambungan Kesultanan Melayu Melaka dan serangan demi serangan dilakukan ke atas Portugis di Melaka untuk menebus maruah bangsa dan agama. Kemudian, Kesultanan Melayu Acheh Darussalam ditubuhkan atas misi yang sama.
Sepanjang tahun 1537 hingga 1636 berlaku Peperangan Tiga-Segi antara Johor-Portugis-Acheh. Malangnya disebabkan persaingan kuasa, kerajaan Johor-Riau dan Acheh Darussalam juga saling berbalas serangan. Tindakan ini telah melemahkan perpaduan Melayu untuk membebaskan Melaka daripada Portugis. Hanya pada tahun 1629, Acheh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam berjaya menyerang Portugis di Melaka secara besar-besaran. Kekentalan perjuangan ini berjaya menggagalkan misi pengkristianan orang Melayu oleh Portugis. Bagaimanapun, Melaka kemudian dijajah oleh Belanda atas bantuan Johor-Riau.
Sejarah Melayu rantau ini turut menyaksikan korban syahid para ulama yang berjuang menentang penjajahan Belanda. Dr. Siddiq Fadhil mencatatkan bahawa:
“Kita juga mengetahui kisah perang melawan Belanda di Acheh dengan pahlawan kenamaannya Tenku Chik di Tiro Muhammad Amin, seorang ulama besar didikan Masjidil Haram yang kemudiannya telah gugur syahid. Orang-orang Melayu di sebela Semenanjung rata-rata mengetahui tentang kepahlawnaan Raja Ali Haji Marhum Telok Ketapang, Yam Tuan Muda Riau penggempur Belanda di Kota Melaka (1782-84) yang gugur syahid dengan badik masih tergenggam di tangan kanannya dan kitab Dala’ilul-Khayrat masih di tangan kirinya” (Siddiq Fadhil, h. 143).
Penjajah Belanda yang menguasai Tanah Melayu selama 183 tahun (1641 – 1824) merupakan penindas utama yang melumpuhkan kekuatan ekonomi dan menghakis kewujudan pedagang Melayu melalui monopoli perdagangan rempah. Syarikat Hindia Timur Belanda (VOC – Vereenigde Oost Indische Compagnie) telah mengenakan cukai yang terlalu tinggi dan mengambilalih fungsi pedagang Melayu. Ini akhirnya telah memusnahkan dan mencegah kebangkitan semula golongan pedagang dan peraih Melayu yang mandiri dan tabah itu.
(Syed Hussein Alatas, h. 188 – 200).
Inggeris pula masuk dan campurtangan di Tanah Melayu secara halus. Pada tahun 1786, Francis Light merampas Pulau Pinang daripada Sultan Kedah melalui tipu helah dan ugutan. Stanford Raffles pula secara halus telah berjaya mempermainkan Sultan dan Temenggong Johor untuk menduduki Singapura pada tahun 1819. Pada tahun 1824, Perjanjian Inggeris-Belanda ditandatangani dan bermulalah era penjajahan Inggeris di negeri-negeri Melayu.
Bagaimanapun, perjuangan menentang penjajahan Barat tetap diteruskan. Sepanjang pemerintah Inggeris yang mewujudkan Sistem Residen di Negeri-negeri Melayu Bersekutu, sistem penasihat di Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada tahun 1874 hingga tahun 1896, banyak penentangan tercetus. Tindakan penajajh Inggeris yang bertujuan untuk melemahkan psikologi Melayu, penindasan ekonomi dan penghakisan kuasa Raja-raja Melayu telah ditentang habis-habisan oleh pejuang-pejuang Melayu.
Dasar pecah dan perintah (divide an rule policy), dasar mengaut kekayaan ekonomi dan kemasukan imigran Cina dan India sebagai pekerja pada abad ke-18 dan 19 amat mengecewakan orang Melayu. Mereka berjuang hingga ke titisan darah menentang penjajahan Inggeris. Dato’ Maharaja Lela, Dato’ Bahaman, Mat Kilau, Tok Gajah, Tok Ku Paloh (Syed Abdul Rahman al-Edrus), Tok Janggut (Haji Magt Hassan), Dol Said Penghulu Naning, Haji Abdul Rahman Limbong, Mat Salleh, Shariff Masehor dan Rosli Dhobby adalah nama-nama yang dapat mewakili senarai panjang ribbuan pahlawan Melayu yang terkorban sepanjang stempoh penentangan berdarah itu.
Peranan para ulama dalam konteks mewariskan ilmu dan perjuangan Islam di dunia Melayu seolah-olah dilupakan orang. Barisan ulama yang mempelopori pengajian islam melalui tradisi pondok bukan sahaja menjadi “the guardians”, benteng ampuh pertahanan akidah Islam orang Melayu, tetapi juga merupakan kelompok paling awal yang tampil ke medan jihad berdarah yang dianggap paling “heroic” menentang pencerobohan imperialis-Kristian Barat terhadap kedaulatan Darulo Islam di rantau ini. Buktinya, sepanjang 446 tahun (1511 – 1957) Tanah Melayu dijajah, belum ada catatan sejarah yang menyebut walau seorangpun Melayu berjaya diKristiankan oleh Portugis, Belanda atau Inggeris.
Ketika menyimpulkan kekentalan semangat perjuangan tersebut, Asy-Syahid Prof. Dr. Ismail al-Faruqi menyifatkan perjuangan umat Islam di rantau Melayu menentang penjajahan Barat ini sebagai:
“… one of the oldest and bloodiest struggles of the Muslim have waged against Christian-colonialist aggression…” (Al-Ittihad, h. 16).
Abad ke-20 pula menyaksikan semangat perjuangan Islam disegarkan semula hasil gerakan pan-Islam yang bertiup kencang dari Timur Tengah, khususnya Mesir. Gerakan kebangkitan bangsa Melayu dicetuskan melalui tulisan-tulisan Syed Sheikh al-Hadi hasil pengaruh gerakan pembaharuan dan reformasi Islam yang dipelopori oleh Sheikh Jamaluddin al-Afghani dan Sheikh Muhammad Abduh di Mesir. Kehadiran Jepun yang berjaya mengusir Inggeris dan menjajah Tanah melayu pada tahun 1941 hingga 1945 telah mempertajamkan lagi kesedaran, semangat anti-penajah barat dan perjuangan menuntut kemerdekaan, membebaskan diri daripada belenggu perhambaan sesama manusia.
3. ERA MENJELANG KEMERDEKAAN
Kesan penjajahan yang paling ketara ialah kesedaran kebangsaan (nasionalisme) Melayu yang meluap-luap. Persatuan-persatuan Melayu mula ditubuhkan bagi menyatupadukan orang-orang Melayu. Pada tahun 1926, Muhammad Eunos Abdullah telah menubuhkan Kesatuan Melayu Singapura (KMS). Idea ini merebak ke Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, Kelantan, Perak dan Pulau Pinang antara tahun 1929 hingga tahun 1938 dengan tujuan untuk “menyatukan suara orang Melayu”.
Muncullah tokoh-tokoh sastera dan pejuang politik Melayu yang awal seperti Syed Sheikh al-Hadi, Abdul Rahim Kajai, Ibrahim Yaakub, Ishak Haji Muhammad, Dr. Burhanuddin al-Helmy, Ahmad Boestamam dan Za’ba yang giat menulis dan memberikan ceramah untuk menyedarkan orang Melayu tentang kedudukan bahasa, ekonomi dan politik Melayu. Mereka terlibat dalam penerbitan pelbagai akhbar dan risalah seperti al-Imam, al-Ikhwan, Warta Malaya, Utusan Melayu, Putera, Majlis, Pengasoh, Suadara, Utusan Zaman dan Mastika (1906 – 41). Dr. Burhanuddin al-Helmy, Ahmad Boestamam dan Ishak Haji Muhammad telah menubuhkan Kesatuan Melayu Muda dan berjaya menganjurkan Kongres Melayu Pertama pada bulan Ogos 1939 di Kuala Lumpur.
Sebahagian daripada orang Cina pula ketika itu terpengaruh dengan ideologi Parti Kuomintang di China (1911) dan kemudian menyertai Parti Komunis Malaya pada tahun 1930-an. Orang-orang India pula terpengaruh dengan Perkembangan politik di India melalui pertubuhan Central Indian Association of Malaya yang dipimpin oleh Dr. AM Soosay pada tahun 1937.
Kesedaran orang Melayu bahawa penjajah Barat dapat dikalahkan semakin kuat apabila Jepun menduduki Tanah Melayu pada tahun 1941 – 45. Jepun turut meniupkan idea “kebangkitan Asia” kepada orang Melayu. Namun apabila Jepun berundur, komunis Bintang Tiga (asalnya MPAJA –The Malayan People’s Anti-Japanese Army) telah menguasai Tanah Melayu selama dua minggu (14 – 30 Ogos 1945). Oleh kerana orang Cina begitu tertindas oleh Jepun dan kebetulan terdapat beberapa kerat anak muda Melayu yang bekerja dengan Jepun (menjadi polis kempetai Jepun untuk mengintip kegiatan penentangan orang Cina ke atas pendudukan Jepun di Tanah Melayu), maka Bintang Tiga pun bermaharajalela dan bertindak membalas dendam dengan membunuh beratus-ratus orang Melayu dan membakar kampung-kampung Melayu.
Orang Melayu terkejut dengan peristiwa tersebut. Mereka yang bangkit menentang kezaliman dan penganiayaan Bintang Tiga itu antaranya ialah Kiyai Salleh (yang digelar Panglima Selempang Merah) dan anak-anak buahnya di Batu Pahat. Keadaan getir ini berakhir apabila tentera Inggeris mendarat semula di Tanah Melayu pada awal bulan September 1945.
Kehadiran semula Inggeris membawa gagasan Malayan Union adalah untuk mengekalkan kuasa imperialis Barat. Sir Harold MacMicheal telah mengugut Raja-raja Melayu supaya menyetujui rancangan tersebut. Orang Melayu mula menyedari bahawa tujuan Malayan Union adalah semata-mata untuk:
1. Menghapuskan kuasa politik Raja-raja Melayu;
2. Menghadkan kuasa raja hanya kepada soal-soal adat istiadat dan uapacara keagamaan;
3. Melantik Gabenor Inggeris sebagai Pengerusi Majlis Penasihat Pusat (bagi agama Islam);
4. Memberi hak dan taraf kewarganegaraan yang sama rat tanpa mengira bangsa dan asal keturunan;
5. Supaya Inggeris berkuasa penuh mentadbirkan Majlis Mesyuarat Kerja dan Majlis Perundangan.
Pada saat kritikal itulah orang Melayu bangkit menentang rancangan jahat Malayan Union dengan diketuai oleh Dato’ Onn Jaafar. Beliau menganjurkan tunjuk-tunjuk perasaan (demonstrasi) yang bermula di Kelantan pada 15 Disember 1945 (10,000 orang), di Alor Setar pada bulan Januari 1946 (50,000 orang) dan di Johor Bharu pada bulan Februari 1946 (15,000 orang).
Pada 29 dan 30 Mac 1946, satu persidangan khas yang dinamakan Kengres Melayu se-Malaya telah diadakan di Kg. Baru, Kuala Lumpur. Kongres itu telah dihadiri oleh 107 orang perwakilan dan 56 orang pemerhati yang mewakili 41 pertubuhan Melayu dari Seluruh Semenanjung Tanah Melayu. Kongres itu telah bersetuju menggesa Raja-raja dan seluruh orang Melayu memulaukan peristiharan Malayan Union dan uapaca perlantikan Gabenor. Walapun perisytiharan Malayan Union diteruskan oleh Inggeris pada 1 April 1946 dengan Edward Gent selaku Gabenor yang pertama, namun orang Melayu tetap menolaknya dengan cara berkabung selama tujuh hari tujuh malam.
Pada 11 Mei 1946, sebuah parti politik yang dinamakan Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (PEKEMBAR) atau UMNO telah ditubuhkan dan Dato’ Onn Jaafar dipilih sebagai presidennya yang pertama. Perjuangan menentang Malaysan Union digerakkan dengan cara yang lebih tersusun. Akibatnya, Inggeris terpaksa akur dan menggubal satu perlembagaan baru yang dinamakan Perjanjian Persekutuan Tanah Melayu pada 21 Januari 1948 dengan mengembalikan semula kedaulatan Raja-raja Melayu, pemberian taraf kewarganegaraan yang diperketatkan dan pemberian hak istimewa kepada orang Melayu.
Bagaimanapun, sikap UMNO yang lebih banyak berkompromi dengan Inggeris itu mendapat tentangan daripada golongan kiri. Tiga pertubuhan politik Melayu telah menubuhkan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) dan orang-orang bukan Melayu pula menubuhkan AMCJA (All-Malaya Council of Joint Action) bagi memperjuangkan kemerdekaan dan pemerintahan sendiri.
Pada 14 Mac 1948, dalam Persidangan MATA, sebuah “Parti Orang-Orang Islam Malaya” yang dikenali dengan nama Hizbul Muslimin telah ditubuhkan. Nama Hizbul Muslimin telah dicadangkan oleh Ustaz Abu Bakar Al-Baqir (yang kemudian dipilih sebagai Ketua Umum yang pertama), mengambil semangat penubuhannya daripada Parti Masjumi di Indonesia dan Ikhwan Muslimin di Timur Tengah. Hizbul Muslimin ditubuhkan bagi memperjuangkan kemerdekaan tanahair berasaskan Islam. Dasar parti ini adalah atas “Islam semata-mata bagi mencapai kemerdekaan bangsa Melayu yang berdaulat, menciptakan masyarakat berdasarkan Islam dan mencapai Tanah Melayu Darul-Islam”. Bagaimanapun, gerakan Hisbul Muslimin lumpuh apabila Ustaz Abu Bakar al-Baqir ditangkap dan dipenjarakan oleh Inggeris kerana dianggap berbahaya.
Pada tahun 1948 juga bermulanya era penentangan Parti Komunis Malaysa (PKM) yang diketuai oleh Chin Peng melalui pemberontakan bersenjata bagi menggulingkan kerajaan baru tajaan Inggeris itu. Darurat diisytiharkan oleh Inggeris dan PKM diharamkan. Sebanyak 13 batalion askar British, Gurkha dan Melayu telah dikerahkan untuk menyerang gerila-gerila komunis dan mengawal kawasan penempatan dan ladang-ladang. Lebih 10,000 orang anggota komunis telah berjaya dibunuh.
Rancangan Briggs kemudian dilaksanakan bagi membuka kampung-kampng baru untuk membendung pengaruh komunis. MCA (Malayan Chinese Association) telah ditubuhkan pada 27 Februari 1949 sebagai alternatif kepada PKM dengan Tan Cheng Lock sebagai presidennya yang pertama. Kempen keahlian MCA dengan slogan mewujudkan keharmonian dan melindungi kepentingan kaum Cina dijalankan dengan berkesan. Kesannya, pengaruh komunis semakin lemah.
Pada tahun 1951, sekumpulan ulama yang tidak setuju dengan dasar kebangsaan yang diperjuangkan oleh UMNO telah menubuhkan PAS (Parti Islam se-Tanah Melayu), sebagai kesinambungan misi Hizbul Muslimin yang telah diharamkan. PAS memperjuangkan kemerdekaan dan pemerintahan secara Islam dengan Ustaz Haji Ahmad Fuad selaku Yang Di Pertuanya yang pertama. Pada tahun 1956, PAS dipimpin oleh Dr. Burhanuddin al-Helmy dan Ustaz Zulkifli Muhammad yang berjaya mengukuhkan organisasi parti Islam itu.
Tuntutan kemerdekaan adalah sebahagian daripada usaha mengembalikan martabat dan maruah Melayu sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Kemerdekaan diharapkan dapat melonjakkan semula kedudukan orang Melayu melalui kuasa politik, penguasaan ekonomi dan pengukuhan jati diri melalui pendidikan dan pembangunan sosio-budaya bangsa.
4. KEMERDEKAAN 1957
Nasib politik Melayu berubah apabila Tanah Melayu atau Malaya mencapai kemerdekaan pada 31 Ogos 1957 melalui cara perundingan dengan kerajaan British. Parti Perikatan yang terdiri daripada UMNO, MCA dan MIC pimpinan Tunku Abdul Rahman, Dato’ Abdul Razak Hussein dan Dr. Ismail Abdul Rahman telah memainkan peranan utama dalam proses tersebut.
Sebelum itu, Pesuruhjaya Tinggi British di Malaya, Sir Gerald Templer telah bersetuju diadakan pilihanraya kerajaan tempatan pada thaun 1955. Seramai 1.6 juta orang telah diperakukan layak untuk mengundi, iaitu Melayu 84%, Cina 11% dan India 5%. Daripada 52 kerusi yang dipertandingkan, 50 daripadanya adlaah kawasan majoriti Melayu. Bagaimanapun UMNO telah bertolak-ansur dengan memberikan 17 kerusi kepada orang Cina dan India. Perikatan telah memenangi sebanyak 51 kerusi, manakala PAS telah memenangi satu kerusi.
Kompromi bagi mencapai kemerdekaan telah ditunjukkan melalui persetujuan antara orang Melayu dan bukan Melayu. Orang bukan Melayu diberikan hak mendapat taraf kewarganegaraan secara automatik mengikut “prinsip Jus Soli” (faktor kelahiran dan peremastautinan), manakala orang Melayu diberikan Hak Istimewa Orang Melayu, Islam sebagai agama rasmi Persekutuan, kedudukan Raja-raja Melayu terjamin di sisi Perlembangaan dan bahasa Melayu didaulatkan sebagai bahasa kebangsaan, sebagai “conpensation” (timbang-terima).
Setahun selepas merdeka, seramai 800,000 orang bukan Melayu, kebanyakannya orang Cina, telah diterma sebagai warganegara. Pada thaun 1968, lebih sejuta lagi orang bukan Melayu telah diterima sebagai warganegara. Sesungguhnya tolak-ansur orang Melayu ini memerlukan penghargaan daripada orang bukan Melayu dan mereka dituntut memberikan taat setia yang tidak berbelah-bahagi kepada negara ini.
Perjuangan orang Melayu selepas pasca kemerdekaan bertukar corak. Setelah sekian lama berjuang menentang penjajah, peranan orang Melayu berubah menjadi pemerintah yang bertanggungjawab membangunkan negara pada zaman moden yang serba kompleks, pengalaman yang tidak ada pada generasi baru ketika itu. Rancangan Malaya Pertama dan Kedua dilaksanakan selama 10 tahun untuk membangunkan ekonomi negara.
"JATUH disebabkan MUSUH dari 'dalam' dan asing..Maka BANGKIT lah Dengan NAMA TUHAN YANG MAHA PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG.."
SUMBER:

//Temanteras.wordpress.com

Copy and paste: 18/9/2023 > 2 Rabiulawal 1445H: 11.53 am