Sunday, 26 October 2014

KISAH DI NERAKA

( Luangkan masa utk membaca kawan2 sahabat2 sekalian…sekejap jer..mOga mendapat ikhtibar dan manfaatnya..) >_
Saya berjumpa fenomena menakutkan hari itu. Takkan saya lupakan selama-lamanya. Ia amat menakutkan dan membuatkan saya trauma beberapa ketika. Terngiang-ngiang ungkapan hamba yang menyesali ...dosa, “Alangkah, lebih baik sekiranya aku menjadi tanah.”
Seorang lelaki berwajah buruk berkulit hitam merangkak-rangkak dengan penuh seksa di lembah kotor itu. Bau hanyir menusuk ke hidung, dengan segera saya menutup hidung. Namun bau itu makin kuat. Lelaki buruk berwajah hitam legam, hingus meleleh di hidung meskipun sudah disapu berkali-kali, dan yang malangnya, ia telanjang bulat tanpa sebarang pakaian.
Ah, ia amat menjelekkan. Bukan hanya dia bertelanjang, bahkan lelaki yang lain, perempuan, mak nyah, pondan dan tomboi, semua bertelanjang dan sangat menjelekkan. Yang perempuan, air nanah meleleh keluar daripada kemaluan mereka. Yang lelaki, air kencing mereka berdarah dan berketul-ketul. Mereka membuang air kecil dengan penuh seksa dan meraung kepedihan.
Lelaki yang merangkak-rangkak itu dihidangkan makanan. Saya mengintai dari kejauhan. Aduh, hidangannya adalah najis lembu yang masih cair dan dihurungi lalat. Najis hitam itu bercampur dengan air kencing lembu yang kuning-kekuningan. Saya muntah dibuatnya. Lelaki itu mengambil najis lalu disuap ke mulutnya dengan lahap. Ia muntah, namun dimakan terus tanpa henti.
Seksanya, hanyirnya. Tiba-tiba suasana menjadi pegun. Terdengar suara yang penuh garau dan menakutkan,
✿ “Wahai manusia terkutuk, tahukah kamu neraka Hawiyah? Itulah neraka yang apinya menjulang-julang.”
Saya terpandang sepasang lelaki dengan perempuan. Si perempuan itu mengumpulkan nanah yang keluar daripada kemaluannya lalu diberikan kepada lelaki. Ia minum dengan rakus, kemudian muntah keluar. Yek, jelek sekali. Kemudian si lelaki bangun berdiri dan kencing sedangkan perempuan itu menadah mulutnya. Wek, saya muntah di situ juga.
✿ “Wahai penzina yang berbangga dengan kemaluannya di dunia, rasakan kamu air nanah dan najis pasangan kamu. Apa yang kamu banggakan di dunia adalah kehinaan di akhirat.”
Sekumpulan manusia bertelanjang berhidung babi dihidangkan dua jenis makanan. Makakan yang baik dan makanan yang jelek. Namun mereka seolah-olah tidak nampak makanan yang baik itu. Mereka menerkam ke arah makanan jelek, yang dihurungi cacing dan lalat. Baunya seperti bau najis ayam. Ia busuk sekali. Mereka makan dengan lahap kemudian bergaduh sesama mereka.
✿ “Wahai pemakan riba, kamu mengetahui bahawa ribamerupakan kemurkaan di sisi Allah. Allah telah menyediakan ruang mencari rezeki yang baikuntuk kamu namun kamu memilih riba.”
Saya ketakutan. Ya Allah, di alam manakah aku ini sebenarnya. Seketika, saya melihat kejauhan. Seorang yang kelihatan soleh. Wajahnya tampak kuat beribadat. Ia diperintahkan ke sebuah taman yang indah. Namun, baru sahaja ia melangkah, kakinya dipegang erat oleh seseorang.
✿ “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan ia ke dalam taman keindahan itu. Ia seorang berilmu, namun ia tidak menyampaikannya kepada kami. Ia seorang naqib, namun ia tidak pernah berusrah dengan kami. Ia seorang pemimpin, namun ia tidak pernah membimbing kami. Ia seorang kuat ibadah, namun tidak pernah menunjuki kami. Masukkan ia ke neraka Ya Allah.”
Saya terus menangis. Seorang naqib? Ya, saya seorang naqib. Apakah seorang naqib seperti saya, yang tidak melakukan usrah akan dicampakkan ke dalam lembah orang telanjang itu? Saya menggeletar ketakutan.
Saya melihat sekumpulan wanita. Mereka sedang mengerumuni satu hidangan. Saya mengintai jauh-jauh. Alangkah, mereka sedang meratah daging mayat manusia. Mereka melapah daging manusia itu hidup-hidup. Siapakah mereka itu Wahai Tuhan?
Saya tambah menggigil apabila melihat salah seorang daripada mereka. Itu adalah saudara saya. Ia seorang yang berbai’ah dengan perjuangan Islam dan mencintai perjuangan. Mengapa ia turut berada dalam kelompok terkutuk itu.
✿ “Itulah kumpulan wanita yang suka mengumpat dan menyebarkan fitnah.Mereka memperjuangkan Islam. Namun dalam masa yang sama,mereka suka sekali menaburkan fitnah dan mengumpat.”
Satu suara menjelaskan kepada saya.
Ya Allah, saya mengerti. Ini kisah benar. Saya mendengar dari rakan saya sendiri. Apabila seorang muslimah berkenan dengan seorang muslimin, dan muslimah itu meminta bantuan daripada rakannya menjadi orang tengah. Malangnya, orang tengah itu bukannya menjalin ikatan bahkan menaburkan fitnah.
Ya Allah, saya berharap cerita ini bukannya mengumpat dan menaburkan fitnah, bukan juga menyebarkan keburukan orang lain.
Seorang ahli pejuang Islam, keluar berdua-duaan dengan muslimah yang turut pejuang Islam. Berpegangan tangan. Menunggang motosikal bersama-sama. Nah, kepada mereka kita ingatkan, Peluklah pasangan kamu itu di atas motor seerat-eratnya, namun harus kamu ingat, yang kamu peluk itulah yang akan menghirup nanah yang keluar dari kemaluan kamu.
✿Na’uzubillah, Ajirna minannar.
✿Saya keanehan. Mengapa seorang lelaki boleh mempercayai seorang perempuan yang sanggup menyerahkan tangan untuk dipegang, kulit untuk dibelai menjadi isterinya? Bolehkah perempuan itu dipercayai untuk menjadi ibu kepada anaknya?
✿ “Darah haid,” saya berpaling ke belakang. Seorang tua bertongkat merapati saya. " Darah haid, apa maksud atuk"
Orang tua itu menunjukkan saya ke satu arah. Terbeliak mata saya melihatnya. Sekumpulan lelaki dihidangkan air berupa darah haid yang baru sahaja keluar daripada seorang perempuan.
“Darah haid itu adalah untuk orang yang memuja perempuan sehinggaLALAI DARIPADA MENGINGATI ALLAH,”
p/s : m0ga mendapat iktibar dari kisah ini..pesanan buat sahabat-sahabat, juga buat diri sendiri..Nauzubillah..kami berlindung hanya padaMU ya ALLAH..

Sumber : Facebook
26.10.2014

Sunday, 19 October 2014

From Marijuana, Women To Islam ::

Born to a Sicilian family in Philadelphia, Salahuddin Decero quest for religiosity after a life of worldly pleasures has transformed him from a young teenager whose life was centered around women, alcohol and marijuana to a Catholic priest and a Muslim at last.
"From the age of 13-17, my life consisted of very few things. Women, Alcohol, Marijuana, crime, and money. I quickly fell into a life of worldly pleasures and comforts,” Decero told the Deen Show.
“The only times I ever went to church were Baptism and first Holy Communion. So throughout my youth I was very innocent, but when I hit my teenage years my family was very shaky and dysfunctional.”
Living in a shaky and dysfunctional home, the young man found himself indulged with the wrong people who introduced him to the life of confusion.
By 17, Decero was sick of his life style and wanted to change. Asking a friend, the friends said he found God.

“I laughed because I did not believe in God at all ! But again he said I found God. I went home that night and suffered great temptations to run back to my usual life ways,” he recalled.
“The next day out of fear I went to this man and said to him I am willing to find God but I don't know who God is! He said Jesus Christ is God and Savior and he died for you.”

Talking about his travel along the different religious experiences, Salahuddin Decero said, “I started feeling great and I was developing deep faith. I became very religious very fast in the beginning. I started having thoughts that I wanted to be a priest and monk but I was hesitant to express it to anybody.”
“About 10 months after I started practicing my Catholic faith I went to live in the monastery a life of a monk in Philadelphia and began studying with the intention of becoming a priest,” he added.
“I was moved from Philadelphia to Minnesota after about 3 years and I lived there the same life. Then my studies took me as far as Rome, Spain, France, and Italy!”

The final stage of Decero’s quest for true religion started when he met an imam after 8.5 years in a monastery who shook his beliefs with simple questions.
“He asked me questions about the church, Jesus, Mary, and history! Some questions he asked me I had never thought about before and I was amazed,” he recalled him first meeting with the imam in Philadelphia.
“He kept asking me where Jesus said I am God! Yet I could not answer him because Jesus does not say that! I had never thought about it. I was told Jesus was God and that was it but I never stopped to just think about if he says the words I am God!”
His simple questions shook the beliefs of Decero, who decided to search more about Islam.

“I went home after that thinking about what we talked about. I spent all night pondering it. I began reading the Qur’an and must had read it 2 times in a row. I began reading some Seerah of Muhammad, and the hadith which I really liked,” he said.
“I began investigating how Muslims prayed. But most of all I began looking into the Bible to see who Jesus says he is! After about 4 months I came to the conclusion that Jesus was not God, Son of God, or Trinity! I came to the conclusion that Original sin does not come out of Jesus' mouth.”
At this stage, he decided to become a Muslim.

“So for the first time in November I went to a Mosque in Philadelphia near my mother’s house and told the Imam I wanted to become a Muslim. He asked me what I knew of Islam and I said little,” he said.
“He taught me so much about Islam right there for about 2 hours. Around 12 PM I became a Muslim and took Shahada and said I testify that there is none worthy of worship but Allah(God), and I testify that Muhammad is his messenger. From this moment my life changed again!”

While talking about his feelings, he intimately said “When I became a Muslim I asked Allah to help me learn Islam more than I ever knew Christianity and Islam has changed me to the person that I truly wanted to be!” The Deen Show reports.
Like
Resources: Facebook
19 October 2014