Thursday, 14 July 2016

Mengapa Kita Belajar Sifat Dua Puluh?

Oleh: Syeikh Muhammad Husni Ginting 
(Hafizahullah)

Ada sebahagian orang yang menentang pengajian sifat 20 sedangkan ianyatelah dipelajari sejak berpuluh tahun bahkan beratus tahun oleh umat islam. Mereka yang menentang pengajian tersebut dengan pelbagai alasan yang sangat lemah sekali. Mereka mengikuti hawa nafsu, dan bertaklid buta dengan orang yang juga tidak mempelajari sifat 20 malah mereka inilah pula yang menyesatkan sifat 20.
Sebahagian dari alasan mereka yang menentang sifat 20 adalah sebagai berikut :
1 - Pengajian sifat 20 melahirkan orang-orang yang berakidahkan lemah, sebab diambil dari filsafah Yunani.
Kita jawab: Hal ini merupakan fitnah yang besar. Kegoncangan dan kelamahan aqidah generasi zaman sekarang karena mereka tidak belajar aqidah yang sebenarnya termasuk di dalamnya sifat 20. Kalau kita lihat realiti yang ada bahkan ilmu sifat 20 inilah yang telah menyelamatkan umat islam di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, negeri Fatani ( Selatan Thailand ) dari usaha pemurtadan penjajah-penjajah asing.
Negara-negara ini telah dijajah oleh penjajah-penjajah kafir yang ingin meluaskan kekuasaan dan agama mereka, tetapi umat islam di Nusantara tetap berpegang dengan aqidah mereka. Barang diingat pengajian tauhid yang tiga ( Tauhid versi Wahabi ) belum bergembang di Nusantara ketika itu. Jadi tauhid apakah yang menjaga umat dari bahaya murtad ? Sudah tentulah jawapannya ialah tauhid sifat dua puluh.
2 - Aqidah sifat 20 merupakan sesuatu yang sangat berat dikaji dan menyusahkan orang islam, sehingga ada tuduhan yg menyebut makcik-makcik ( Ibu-Ibu ) di Langkawi ( pulau di Malaysia ) yang tak laksanakan shalat tujuh puluh tahun lamanya karena tak faham sifat 20, sebab gurunya kata kalau tak hafal sifat dua puluh shalat tak sah.
Kita jawab : Sifat dua puluh merupakan sistem pengenalan terhadap Allah s.w.t yang sangat mudah sekali, karena menghafalnya lebih mudah dari mengahafal al-Qur`an. Para sahabat Rasul telah mengafal al-Qur`an, jadi di dalam al-Qur`an sendiri telah disebut sifat-sifat Allah, dengan makna lain mereka telah menghafal sifat-sifat Allah melalui al-Qur`an. Jadi jika umat islam disuruh untuk mengahafal sifat 20 dengan dalil Naql ( al-Qur`an dan Hadis ) dan akal itu lebih mudah dari pada menghafal seluruh al-Qur`an.
Sifat-sifat Allah terlalu banyak sekali, baik disebutkan didalam al-Qur`an maupun didalam hadis Rasul. Jadi jika umat islam disuruh untuk menghafal seluruh sifat -sifat yang ada, ini merupakan sesuatu yang memberatkan bagi umat islam. Sedangkan pengajian sifat dua puluh memudahkan umat islam dengan menyebutkan sifat-sifat yang paling berpengaruh dari seluruh sifat-sifat yang lainnya.
Jika sifat 20 ini tidak ada, maka sifat-sifat yang lain pun tidak akan ada pula, sebab itulah sifat-sifat Allah yang lain itu tergantng kepada sifat 20, dengan makna jika sifat wujud Allah tidak ada maka sifat pengampun, pemurah, penyayang dan lain-lainnya juga tidak ada. Jika sifat qidam Allah tidak ada maka sifat menciptakan, memberi, kuat dan lain-lainnya juga tidak akan ada.
Sebab itulah sifat dua puluh ini sangat perlu sekali di pelajari, karena terdiri dari inti sari aqidah yang terdapat di al-Qur`an dan al-Hadis.
Adapun cerita kononnya ada seorang perempuan tidak shalat selama tujuh puluh tahun disebabkan tidak hafal sifat 20, maka ini cerita yang diragui dan diada-adakan
Allah berfirman : إن جاء كم فاسق بنبإ فتبينوا 
Artinya : Jika datang kepada kamu orang fasikyang membawa kabar hendaklah teliti dulu.

Maksudnya cerita yang dibawa oleh orang tersebut perlu diteliti benar tidaknya, dari sebanyak perjalanan saya dan sepengetahuan saya tidak pernah ada orang tinggalkan shalat disebabkan mempelajari sifat 20, alasan di atas adalah cerita yg berlebihan. Jika mahu bercerita ceritalah perkara yang masuk akal dan yang benar, sebab lidah itu akan di pertanyakkan Allah di hari akhirat.
Saya akan sebutkan sebahagian pusat pendidian yang menjadikan sisten sifat 20 sebagai dasar didalam tauhid mereka.
1 - al-Azhar as-Syarif Mesir : Dari peringkat Menengah, atas dan perkuliyahan sifat dua puluh di pelajari di lembaga pendidikan yang tertua ini, mengeluarkan setiap tahunnya ribuan pelajar dan mahasiswa tetapi mereka tetap shalat walaupun mengaji sifat 20.
2 - Madrasah Solatiyah : Merupakan pusat pengajian yang pertma sekali di bina di Makkah menjadikan dasar pengajiannya sifat 20, mereka semua shalat dengan bagus walapun mengaji sifat 20.
3 - Madrasah Mustafawiyah Purba Baru Mandailing Sumatra Utara : merupakan pusat pendidikan yang yang sanat terkenal di Indonesia, mengeluarkan setiap tahunnya lebih dari tujuh ratusan pelajar, mereka semua shalat walaupun mempelajari sifat 20 sama ada yang sudah hapal atau belum.
Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Tebu Ireng, pondok Lubuk Tapah ( Malaysia ), pondok Bakriyyah Pasir Putih dan banyak lagi pondok pesantren yang mempelajari sifat dua puluh di Nusantara.
Bahkan orang-orang yang mempelajari sistem tauhid tiga ( versi Wahabi ) kebanyakkannya terjatuh kepada aqidah mujassimah yang menyerupai Allah dengan makhluknya, sebab itulah Wahabi bersusah payah untuk menghilangkan tauhid sifat dua puluh, selama masih ada di bumi ini orang yang mempelajari sifat dua puluh selama itulah Wahabi yang mengangap diri mereka salafi golongan mujassimah Musyabbihah.
3 - Sifat dua puluh tidak ada pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat-sahabat yang mulia, tetapi ada setelah abad-abad yang mulia.
Kita jawab : Tidak adanya sifat dua puluh pada zaman Rasul dan sahabat bukanlah sebagai dalil untuk menolak pengajian sifat dua puluh, sebab isi dan kandungan sifat dua puluh sudah ada pada zaman Nabi dan sahabat, misalnya sifat wujud Allah, Qidam, Baqa, Mukhalafatu Lil Hawadis, Qiyamuhu Binnafsih, Wahdaniyyah, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayah, kalam adalah sifat - sifat yang di kenal oleh Nabi dan para sahabat-sahabatnya.
Barangsiapa yang mengingkari bahwa Nabi mengetahui sifat-sifat ini berarti aqidahnya telah jauh dari aqidah islam, bagaimana boleh Nabi mengingkari Wujudnya Allah, ilmunya Allah, Baqa`nya Allah, Kalamnya Allah, sifat-sifat ini telah termuat didalam al-Qur`an dan Hadis Nabi.
Seperti Rukun shalat, Nabi tidak pernah katakan berapa rukun shalat, berapa sunnah-sunnah shalat, berapa syarat-syarat shalat, tetapi melalui al-Qur`an dan Hadis para ulama telah menyimpulkan dan menetapkan rukun-rukun shalat dari mulai bediri sampai salam, apakah perbuatan ulama-ulama tersebut suatu yang bid`ah, hal ini tidak bid`ah karena isi dan kandungannya dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Saya akan perlihatkan kepada pembaca seluruh sifat-sifat yang telah ulama sebutkan sebagai sifat yang paling terpenting sekali Allah miliki, jika Allah tidak bersifat seperti itu maka Allah tidak pantas menjadi tuhan, tetapi karena dalil Naqli dan akal telah menyebutkan Allah bersifat dengan sifat dua puluh maka sah-lah Allah sebagai tuhan yang di sembah.
Berikut sifat-sifat yang sangat penting sekali :
1 - Wujud
Sifat Wujud ini mesti ada pada tuhan yang di sembah jika tidak ada maka dia tidak berhak dianggap tuhan, sementara dalil yang di petik darial-Qur`an adalah :
أفرءيتم ما تمنون ( 58 ) وأنتم تخلقونه أم نحن الخالقون ( 59 ) نحن قدرنا بينكم الموت وما نحن بمسبوقين ( 60 ).الواقعة 58-60

Artinya : Tidakkah kamu memikirkan keadaan air mani yang kamu pancarkan ( ke dalam rahim )? ( 58 ) Adakah kamu yang menciptakannya atau kami yang menciptakannya? ( 59 ) Kamilah yang menentukan kematian diantara kamu, dan Kami tidak sekali-kali dapat dikalahkan atau dilemahkan ( 60 ).
2 - Qidam
Allah s.w.t bersifatkan qadim maksudnya wujud Allah s.w.t tidak didahuli oleh tiada, jika sesuatu didahului oleh tiada maka sesuatu itu tidak boleh disebut tuhan.
Dalilnya :هو الأول وهو الآخر
Artinya : Dia-lah yang awal dan yang akhir ( al-Hadid 3 ).
Sifat ini banyak dikritik dari kalangan wahabi, mereka menganggap bahwa qadim bukan sifat Allah karena, terdapat di dalam al-Qur`an.
Tidak semestinya jika al-Qur`an tidak menggunakannya untuk sifat Allah berarti tidak boleh gunakan, selama maksud sifat itu terdapat didalam al-Qur`an dan telah menjadi istilah yang di terima oleh ulama maka sifat itu boleh digunakan, sebab Imam Abu Hanifah, Imam Tohawi dan lain-lainnya juga menggunakan kalimat ini.
Sifat qidam juga telah di riwayatkan di Imam Ibnu Majah, Imam al-Hakim didalam Mustadrak, juga terdapat didalam sunan Ab Daud.
3 - Baqa :Wajib abgi Allah bersifat baqa` yang berarti tetap tidak diakhiri dengan kematian, Allah berfirman
ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام
Artinya : Dan kekallah Zat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliyaan. ( ar-Rahman 27 ).
4 - مخالفة للحوادث 
Sifat ini merupakan sefat yang paling penting di fahami oleh umat islam, bahwa segala sifat, perbuatan, dan prilaku yang baharu tidak boleh disamakan kepada Zat, sifat, perbuatan Allah, barang siapa yang mengingkari sifat ini maka dia telah keluar dari agama islam, jadi Allah tidak sama dengan makhluk-makhluknya.

Firman Allah : ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير
Artinya : Tiada sesuatupun yang sebanding (serupa ) dengan ( Zat , sifat, perbuatan ),Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (as-Syura 11 ).
Dan selanjutnya seluruh sifat-sifat yng telah ulama-ulama as-Sya`irah kemukaan didalan sifat dua puluh memiliki dalil-dalil yang jelas didalam al-Qur`an.
4 - Sifat Allah tidak hanya dua puluh kenapa mesti di batasi
Kita jawab : Asya`irah ketika membincang sifat dua puluh TIDAK PERNAH membataskan sifat-sifat Allah, bahkan mereka mengakui sifat-sifat Allah banyak, setiap sifat-sifat sempurana dan mulya itu adalah sifat Allah. Orang yang mengatakan Asya`irah hanya mengajar sifat dua puluh saja membuktikan dia tidak pernah membaca buku-buku aqidah aliran ahlussunnah Asya`irah, cuba lihat sebahagian kitab-kitab Asya`irah :
a - Matan as-Sanusiyyah : Kitab ini dikarang oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Yusuf as-Sanusi yang meninggal dunia tahun 895 hijriyah, kitab ini merupakan kitab yang paling penting di kalangan Asya`irah, telah mendapat perhatian khusus dari kalangan ulama dan pelajar agama, sehingga menjadi rujukkan aqidah bagi Asya`irah sedunia.
Di dalamnya menyebutkan :
فمما يجب لمولانا جل وعز عشرون صفة
Artinya : Sebahagian sifat yang wajib bagi Allah yang Mulia dan Tinggi adalah dua puluh sifat ( Matan Sanusia beserta Hasyiahnya Imam Bajuri :16 , terbitan Musthafa Halabi , 1374 - 1955 )
b - ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad bin Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi
فمما يجب لله تعالى عشرون صفة واجبة
Artinya : Dan sebahadian dari sifat yang wajib bagi Allah adalah dua puluh sifat yang wajib (ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad bin Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi beserta syarahnya Fathu al-Majid karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni : 5 , terbitan Musthafa al-Halabi cetakan terakhir 1373 -1954 ).
Perlu di ketahui bahwa lafaz ( من ) pada kalimat ini bermaksud ( لتبعيض ) artinya menunjukkan sebahagian saja, dengan begitu sifat Allah banyak sekali, segala sifat yang patut, layak, dan mulia adalah sifat Allah, tetapi diantara sifat-sifat itu ada dua puluh sifat yang sangat perlu sekali di ketahui secara terperinci.
Sumber dari Facebook
14 Julai 2016

SIAPA YANG DIPERBOLEHKAN MENILAI KEPALSUAN HADITH?

1. ARG Johor melihat 'trend' zaman ini ramai pengkaji hadith yang merasa dirinya adalah pakar hadith yang mempunyai kredibiliti tinggi sehingga memiliki autoriti menilai hadith. Sekali mereka tidak menemukan hadith dalam kitab-kitab hadith, walaupun hanya bermodalkan program perisian “Maktabah Syamilah” atau google di internet mereka sudah berani menilai palsu sebuah hadith. Ini adalah sangat berbahaya kerana boleh menyesatkan umat. Apatah lagi tanggung jawab berupa amanah ilmiyyah yang tidak diindahkannya?!
2. Salah satu indikator hadith palsu adalah hadith tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadith atau hafalan perawi hadith setelah adanya penelitian yang sangat mendalam dan sempurna. Dan pakar hadith yang patut menilai hadith palsu melalui syarat ini adalah ulama-ulama hadith kelas tinggi dan tentu sahaja tidak sembarangan huffazh hadith mampu masuk wilayah atau autoriti ini.
3. Al-Hafizh al-‘Alai berkata:
وهذا إنما تقوم به الحجة بتفتيش الحافظ الكبير الذي قد أحاط حفظه بجميع الحديث أو بمعظمه كالإمام أحمد وابن المديني ويحيى بن معين ومن بعدهم كالبخاري وأبي حاتم وأبي زرعة ومن دونهم كالنسائي ثم الدار قطني لأن المأخذ الذي يحكم به غالبا على الحديث أنه موضوع إنما هي الملكة النفسانية الناشئة عن جمع الطرق والإطلاع على غالب المروي في البلدان المتباينة بحيث يعرف بذلك ما هو من حديث الرواة مما ليس من حديثهم وأما من لم يصل إلى هذه المرتبة فكيف يقضي لعدم وجدانه للحديث بأنه موضوع
“Dan ini boleh dijadikan hujjah dengan adanya penelitian daripada seorang hafizh besar yang hafalannya telah meliputi seluruh hadith atau majoriti-nya seperti Imam Ahmad, Ibn Madini, Yahya bin Main, dan ulama setelahnya seperti al-Bukhari, Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan ulama dibawah mereka yang seperti Imam an-Nasai, kemudian ad-Daraquthni. Kerana referensi yang dijadikan asas hukum terhadap penilaian bahawa hadith tersebut palsu, secara umum, adalah dari kemahiran (malakah) jiwa yang muncul daripada ia telah menghimpun seluruh sanad riwayat, melihat banyaknya yang diriwayatkan dalam daerah-daerah yang berjauhan hingga dengan itu diketahui manakah hadith yang diriwayatkan oleh perawi dari hadith yang bukan hadith mereka. Adapun ulama yang belum sampai derajat ini, maka bagaimana boleh ia memutusi palsu suatu hadith hanya kerana ia tidak menemukannya?”.
4. Al-Hafizh as-Sakhawi dalam Fath al-Mughith (I/40) ketika menjelaskan syarat ahli hadith yang sudah sangat pakar menilai hadith mengutip perkataan ulama berikut:
الذي يطلق عليه اسم المحدث في عرف المحدثين أن يكون كتب وقرأ وسمع ووعى ورحل إلى المدائن والقرى وحصل أصولا وعلق فروعا من كتب المسانيد والعلل والتواريخ التي تقرب من ألف تصنيف فغذا كان ذلك فلا ينكر له ذلك
“Yang boleh disebut dengan nama muhaddith menurut urf (istilah) ahli hadith adalah ia telah menulis, membaca, mendengar, memahami, eskpedisi ilmiyyah ke berbagai kota dan desa, berhasil menguasi ushul, dan mampu menta’liq cabang-cabang dari kitab-kitab musnad, kitab ilal, dan kitab sejarah perawi yang semunya mendekati 1000 karya, maka ia telah menjadi seorang muhaddith dan tidak diingkari dalam memberi penilaian hadith”.

5. Dalam tradisi ulama yang betul-betul amanah ilmiyyah dan jujur, ketika ia tidak menemukan hadith yang disoalkan kepadanya, atau ia sedang dalam men-tahqiq sebuah kitab ulama dan ia tidak menemukan hadith yang dibawakan dalam kitab tersebut, maka ia akan mencukupkan diri dengan mengatakan: “Saya tidak menemukannya”.
6. Apatah lagi jika sesuatu hadith itu digunakan oleh ulama-ulama besar yg diiktiraf seluruh dunia seperti Imam Rami, Imam Ibn hajar al-Haitami, Imam Bujairami, Imam Syibromalisi dan lain-lain sehingga zaman ini, apakah dengan chatting, membaca di web, forum, blog dan facebook kita di akhir zaman ini mampu menilai palsu sesuatu hadith? Setelah melihat syarat-syarat menjadi pakar haditrh diatas, nyatakan nama seorang professor hadith atau apa-apa bidang ilmu zaman ini yang boleh menandingi kehebatan Imam Ramli dan Imam Ibn Hajar Al-Haitami. Silakan.
Disediakan oleh:
Pertubuhan Penyelidikan Ahlussunnah Wal Jamaah
Johor Bahru, Johor (ARG Johor)

Sumber dari Facebook
14.7.2016