Saturday 13 June 2015

NASEHAT DARI RASULULLAH UNTUKMU

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang Engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat
kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri..." 

(Surah Al-Ahqaf-15)

Rasulullah telah memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. Kami bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat" Rasulullah bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru kerana sesungguhnya semua bid'ah itu sesat." 

[Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud, no. 4607, At Tirmidziy, no. 2676 dan beliau mengatakan (hadits ini) hasan shahih, dan Ibnu Majah, no.44, Ad Darimiy, (1/44-45). Al Bazzaar berkata: Hadits ini Tsaabit Shahiih. Ibnu Abdil Barr berkata:(darjat) hadits ini seperti yang dikatakan oleh al Bazzaar, Jaami‟u Bayaanil „Il mi, hal. 549.]

Kematian adalah sebuah kenyataan keras dan menakutkan yang akan dihadapi tiap-tiap yang bernyawa. Tidak seorang pun mempunyai kekuatan untuk menghindarinya, dan tidak juga seorang pun yang berada disekitar orang yang sedang sekarat memiliki kemampuan untuk mencegahnya. 
Kematian adalah sesuatu yang (dapat) terjadi setiap saat dan yang merupakan sesuatu yang menimpa orang tua maupun muda, kaya ataupun miskin, yang kuat maupun yang lemah,. Mereka semuanya sama bahwa mereka tidak mempunyai rencana, dan juga tidak dapat lepas darinya, tidak ada jalan syafaat, tidak ada jalan untuk menghindarinya, atau menundanya.[1]

Allah Jalla wa „Ala berfirman:

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". 
(QS Al-Jumu‟ah [62] : 8)

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarbenarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. 
(QS Al-Anbiya [21] : 34-35)

Sungguh itulah kematian: “yang menimbulkan ketakutan pada jiwa, dan dengannya amalan seseorang ditutup, dan apa yang datang setelahnya bahkan lebih menakutkan dan mengerikan.
Adakah tempat seseorang berlari untuk lepas dari sesaknya himpitan kubur? Apa yang akan kita jawab ketika kita ditanyai di dalam kubur? Sungguh, tak seorang pun diantara kita mengetahui kemana akhir kita kelak. Akankah itu Surga yang seluas langit dan bumi, ataukah Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu?

Ibrahim bin Adam rahimahullah (wafat 160 H) berkata, ketika dia ditanya tentang ayat: “Berdoalah kepadaku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu” 
(QS Al-Mu‟min [40] : 60). 
Mereka berkata, “Kami berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkannya.” 

Maka beliau berkata: 
“Engkau mengenal Allah, namun engkau tidak mentaati-Nya. Engkau membaca Al-Qur‟an namun engkau tidak bertindak sesuai dengannya, engkau mengetahui Syaithan, namun engkau terus mengikutinya. Engkau menyatakan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun engkau meninggalkan sunnahnya. Engkau berkata engkau mencintai Surga namun engkau tidak berusaha untuk mencapainya. Engkau berkata engkau takut kepada Neraka, namun engkau tidak berhenti berbuat dosa. Engkau berkata: “Sungguh kematian adalah benar adanya, namun engkau tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau menyibukkan dirimu dengan kesalahan orang lain, namun engkau tidak melihat kesalahan-kesalahan dirimu sendiri. Engkau makan (dari) rezeki yang diberikan Allah kepadamu, namun engkau tidak bersyukur kepada-Nya. Engkau menguburkan kematian (yang mati –pent), namun engkau tidak mengambil pelajaran.”

Karenanya, ini, wahai pembaca yang mulia, adalah sesuatu yang harus kita tanamkan dengan kuat didalam hati, kenyataan bahwa kehidupan di dunia ini terbatas dan memiliki akhir yang telah ditentukan, dan akhir ini pasti akan datang.

“Orang-orang shalih akan mati. Dan orang-orang jahat akan mati. Pejuang yang berjihad akan mati. Dan mereka yang tinggal di rumah akan mati. Mereka yang menyibukkan diri dengan keimanan yang benar akan mati. Dan mereka yang memperlakukan manusia layaknya budak-budak mereka akan mati. Pemberani yang menolak ketidakadilan akan mati. Dan pengecut yang mencari perlindungan dengan bergantung pada kehidupan yang buruk ini akan mati. Orang-orang dengan tujuan dan citacita yang mulia akan mati. Dan orang-orang malayang yang hidup untuk kesenangan yang murah akan mati.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
(QS Al-Imran [3] 185)

“Maka ingatlah selalu akan kematian, dan bahwa seseorang akan menuju pada kehidupan berikutnya, dan banyaknya dosa yang telah dilakukan seseorang dan sedikitnya amal kebaikan yang dilakukan seseorang.
Pikirkanlah akan kebaikan-kebaikan yang sangat ingin anda lakukan pada saat itu dan bawalah hal itu kepada hari ini.

Dan fikirkanlah tentang perkara-perkara yang ingin engkau bersih daripadanya, maka bersihkanlah dirimu dari sekarang.

Catatan dari
[1] Al-Maut (hal. 9), Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
[2] As-Salat wa Atharahu fi Ziyadatil Iman (hal 10), Syaikh Husain Al-Awaishah
[3] Al-Hafizh Ibnu Rajab di dalam al-Khusu fis-Salah (hal. 62)


http://www.facebook.com/groups/177838168962818/permalink/208534079226560/ 
12.12.2011 – 09.01 am 

No comments: